Dikenal sosok yang rendah hati, bahkan sempat diragukan keilmuannya, Mbah Juki punya satu kelebihan. Kiai ini bisa mendeteksi keberadaan Nabi Khidir. Seperti yang dia alami menjelang akhir hayatnya.
Sebagai seorang ulama besar, KH Marzuqi Dahlan justru dikenal sebagai pribadi yang tawadhu atau rendah hati. Saking tawadhu-nya, banyak yang meragukan kemampuannya membaca kitab-kitab kuning. Termasuk pula para sahabat dan santri-santrinya.
Padahal, sejatinya, kiai yang karib disapa Mbah Juki ini bukan sembarang ulama. Dia mempunyai banyak kelebihan. Keistimewaan-keistimewaan itu sudah terlihat sejak dia nyantri kepada Mbah Kiai Abdul Karim (Mbah Manab). Salah satunya, mampu mengetahui keberadaan Nabi Khidir, nabi misterius yang diimani keberadaannya oleh umat Islam.
Mbah Bram meriwayatkan kisah pertemuan antara Mbah Juki dengan Nabi Khidir itu dari kisah yang diceritakan Kiai Solichun, pengasuh Ponpes Nurul Hasan, Geger Tegalrejo. Suatu hari, sang kiai kedatangan tamu yang agak berbeda bila dibandingkan dengan orang yang berkunjung lainnya. Sang tamu bermata sipit.
“Kaya wong Cina (seperti orang Tionghoa, Red), memakai celana pendek,” kata pengasuh Ponpes Lirboyo yang bernama asli M. Ibrohim Hafidz ini menceritakan ulang kisah yang disampaikan Kiai Solichun.
Tanpa disangka-sangka, Mbah Juki sangat menghormati tamunya itu. Dia menyambut dengan sangat takzim. Penuh dengan rasa hormat. Sang kiai sampai mencium tangan tamunya dan melayani secara istimewa.
Mbah Kiai Mahrus, yang awalnya memperhatikan tamu yang datang itu dari kejauhan langsung heran. Penasaran, dia langsung menanyakan perihal itu setelah sang tamu pamitan pulang.
“Mbah Mahrus tanya kok sampai munduk-munduk (membungkuk sebagai tanda hormat, Red), mencium tangan, dan melayaninya dengan khidmat,” terang Mbah Bram.
Mbah Kiai Marzuqi lantas menjawab, “kae mau Nabi Khidir. Ngabari aku nek patang puluh dino maneh aku mati (itu tadi Nabi Khidir, memberitahu bahwa 40 hari lagi aku mati, Red).”
“Dan memang benar, Mbah Mahrus menghitung tepat 40 hari setelah kedatangan tamu tersebut, Mbah Juki dipanggil menghadap Allah SWT. Wallahu a’lam,” tandas Mbah Bram.
Mbah Juki wafat pada Selasa, 24 Dzulqa’dah atau 18 November 1975. Berita kemangkatan Mbah Juki begitu cepat tersebar. Masyarakat yang bertakziah semakin siang semakin membeludak. Saking banyaknya pelayat, jenazah KH Marzuqi Dahlan disemayamkan di masjid. Jamaah salat jenazah mesti dilakukan bergantian dan berulang-ulang karena kapasitas masjid yang tidak mencukupi. (fud/bersambung)
Editor : adi nugroho