Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

‘Mengikat Kediri’ dengan Tenun Ikat

adi nugroho • Sabtu, 16 Desember 2017 | 02:36 WIB
mengikat-kediri-dengan-tenun-ikat
mengikat-kediri-dengan-tenun-ikat



KEDIRI KOTA – Pesona tenun ikat khas Kota Kediri kembali menghipnotis penikmat fashion dalam ajang Dhoho Street Fashion 3rd. Apalagi ketika digarap para desainer kawakan Didiet Maulana bersama dengan perancang busana lokal berpengalaman.


“Acara ini adalah salah satu upaya agar tenun ikat semakin dikenal masyarakat luas,” terang Ferry Sylviana Abu Bakar, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri, dalam sambutannya di Taman Sekartaji, Mojoroto, kemarin.


Dari pantauan Jawa Pos Radar Kediri, acara bergengsi itu dihelat sekitar pukul 09.30 WIB. Peragaan busana dengan tema “Mengikat Kediri” tersebut diawali dengan penampilan busana rancangan desainer muda dari SMKN 3 Kediri. Warna oranye dengan bentuk-bentuk kasual tampak elegan dikenakan para model.


Puluhan busana berbagai bentuk karya empat desainer lainnya juga silih berganti menghiasi catwalk sederhana di Taman Sekartaji, kemarin. Penampilan terakhir ditutup oleh karya design busana warna-warna kalem dari Didiet.


“Harapannya acara tahunan ini ke depannya semakin meriah dan tujuan diadakannya acara bisa tercapai,” tandas perempuan yang juga ketua tim penggerak PKK Kota Kediri tersebut.


Didiet yang kemarin menjadi bintang tamu dalam acara tahunan itu sangat tertarik dengan tema kasual yang diangkat. Perancang busana berkacamata tersebut berharap, dari karya-karyanya masyarakat Kota Kediri tidak bingung lagi mengkreasikan kain tenun menjadi berbagai jenis busana.


“Tidak hanya melulu untuk busana formal saja. Kain tenun juga cocok untuk busana kasual sehari-hari,” terangnya yang kemarin tampak didampingi Bunda Fey–sapaan karib Ferry Sylviana Abu Bakar.


Menurutnya, kain tenun ikat khas Kota Kediri tidak kalah dengan kain khas dari daerah-daerah lain. Kualitas dan motifnya rapi dan bagus. Didiet juga cukup salut dengan penenun-penenun muda di Kota Kediri.


“Sangat berpotensi untuk semakin dikembangkan karena di sini banyak seniman tenun yang masih muda-muda,” bebernya.


Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri juga memberikan dukungan yang sangat besar. Hanya saja Didiet mengingatkan untuk tidak bosan-bosan mengeksplorasi apa yang sudah ada. Terutama dari segi pewarnaan dan motif tanpa menghilangkan ciri khas-nya.


“Sekarang motif khas Kota Kediri adalah kawung, tirto brantas, kuncup, ceplok, es lilin, dan salur. Perlu dikembangkan sehingga Kota Kediri semakin memiliki identitas,” tegasnya.


Desainer lokal, Zetty Mustafa, juga mengaku, sangat senang bisa ikut berpartisipasi membuat desain baju dengan bahan dasar kain tenun. Permainan warna dan model menjadi andalannya.


“Garis benang kain tenun kan sangat terlihat ya, jadi harus pintar-pintar memotong dan memadu-padankan dengan bagian lain dari busana agar terlihat serasi dan cantik,” tandas pemilik Salma Butik di Jalan Dhoho, Kota Kediri tersebut.


Tampak hadir dalam acara itu Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar bersama Wakil Wali Kota (Wawali) Lilik Muhibbah. Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi dan Kepala Kejari Kota Kediri Martini pun ikut menikmati acara. Bahkan Ketua TP PKK Kabupaten Kediri dan Kabupaten Trenggalek juga ikut menyaksikan perhelatan semarak itu.

Editor : adi nugroho
#kediri #fashion #dhoho