JP Radar Kediri - Dunia sepak bola tanah air kembali dibuat ramai dengan perbincangan soale dua nama pemain baru yang diduga menjalani proses naturalisasi.
Dua nama itu merupakan mantan pemain Premier League, yakni Ian Maatsen dan Jairo Riedewald.
Dilansir dari Jawapos Radar Banyuwangi, Kedua pemain ini dikabarkan resmi menjalani proses naturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Ian Maatsen kini berusia 23 tahun. Pemain kelahiran Belanda ini berposisi sebagai bek kiri atau winger.
Terakhir, ia membela Chelsea. Kecepatannya dalam mengover sisi lapangan dan akurasi umpan silangnya jadi senjata utama.
Sementara Jairo Riedewald, 28 tahun, lebih senior. Eks gelandang bertahan dan bek tengah Timnas Belanda serta Crystal Palace ini baru saja menyelesaikan masa kontraknya dengan Royal Antwerp di Liga Belgia.
Kabarnya, ia bakal merapat ke FC Utrecht di Eredivisie.
Keduanya diketahui memiliki darah Indonesia dari garis keturunan kakek-nenek. Inilah yang membuka jalan naturalisasi mereka secara legal.
Disamping kabar ini, tagar #MaatsenWNI dan #JairoGaruda langsung trending di berbagai platform media sosial.
Unggahan Instagram story milik keduanya juga menjadi pemicunya. Pasalnya, dalam unggahan itu, mereka memperlihatkan dokumen naturalisasi yang diyakini telah diteken pada 27 Juni 2025 lalu.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Disamping itu, Erick Thohir disebut tengah melakukan langkah senyap sebagai strategi percepatan.
“Ini bukan jalan pintas. Ini strategi percepatan. Pembinaan tetap jalan, tapi prestasi juga harus hadir sekarang,” tegas Erick.
Menariknya, bukan hanya Maatsen dan Jairo. PSSI juga sedang mengebut proses naturalisasi untuk tiga nama potensial lain: Mitchel Bakker (eks PSG dan Bayer Leverkusen), Mauro Zijlstra (striker FC Volendam), dan Miliano Jonathans (winger FC Utrecht).
Langkah ini dianggap sebagai bentuk keseriusan PSSI dalam menghadapi putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, yang undian grupnya akan digelar 17 Juli mendatang di Kuala Lumpur.
Editor : Shinta Nurma Ababil