“Ini salah satu bentuk rasa syukur kami. Juga bentuk birul walidain kepada para sesepuh yang telah mbabad desa,” terang Kepala Desa Semen Mat Hasyim.
Nyadranan adalah tradisi masyarakat Jawa yang berlangsung sepanjang Suro atau Muharram di penanggalan Islam. Biasanya diisi dengan selamatan atau bersih desa.
Dalam nyadran yang juga dihadiri oleh perwakilan muspika dan seluruh perangkat desa dengan mengenakan pakaian khas Kabupaten Kediri itu, ritual diawali dengan tabur bunga. Sang kades menaburkan bunga di makam sesepuh desa. Diteruskan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan pendadaran (menceritakan) sejarah desa.
“Ini adalah makam Ki Gede Padosan Moho Wiqyu alias Ki Sunan Pangkat. Beliau ini dulu yang mbabad Desa Semen. Yang sebelah timur adalah makam Ki Ageng Prawoto dan Nyai Dewi Srigtai,” urai Suprapto, salah seorang tokoh Desa Semen.
Usai pendadaran sejarah desa, dilanjutkan dengan pelantunan salawat mahalul qiyam. Diiringi dengan suara lantang rebana yang ditabuh oleh beberapa warga. Suasana semakin terasa sakral karena berlangsung di bawah rimbunnya pohon beringin raksasa yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Acara kemudian ditutup doa.
Usai rangkaian acara selesai, segenap yang hadir bersama-sama menyantap nasi dengan lauk ingkung ayam. Berbagai aneka makana khas selamatan tersedia lengkap. Termasuk aneka polo kependem. Editor : Anwar Bahar Basalamah