Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Upacara Penti di Wae Rebo: Tradisi Syukuran Tahunan yang Mempertahankan Harmoni Manusia, Alam, dan Leluhur di Jantung Manggarai

Internship Radar Kediri • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 12:11 WIB

Kehangatan dalam kebersamaan — Upacara Penti, wujud syukur dan doa masyarakat Wae Rebo atas hasil panen dan kehidupan yang diberkahi.
Kehangatan dalam kebersamaan — Upacara Penti, wujud syukur dan doa masyarakat Wae Rebo atas hasil panen dan kehidupan yang diberkahi.

JP RADAR KEDIRI-  Di tengah kabut pegunungan yang menyelamatkan Kampung Adat Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sebuah tradisi sakral telah berlangsung selama ratusan tahun. Upacara penti, ritual syukuran tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 15 November, bukan sekadar perayaan hasil panen, melainkan berperan nyata dari filsofi hidup masyarakat Manggarai yang menjunjung tinggi keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur.

Sejarah Panjang Tradisi Penti

Penti merupakan upacara adat yang telah diwariskan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang masyarakat Manggarai. Kata “Penti” sendiri berasal dari bahasa Manggarai yang berarti “menutup” atau “mengunci”, melambangkan penutupan siklus pertanian dan kehidupan dalam setahun. Sekaligus pembukaan harapan baru untuk tahun berikutnya.

Tradisi ini lahir dari kesadaran masyarakat agraris Manggarai yang sangat bergantung pada alam. Para leluhur memahami bahwa hasil panen yang melimpah, kesehatan keluarga, dan kesejahteraan kampung bukanlah semata-mata hasil kerja manusia. Tetapi juga berkat dari Mori Kraeng (Tuhan Yang Maha Esa) dan restu para leluhur yang telah mendahului.

Baca Juga: Lestarikan Tradisi dan Budaya, Pemdes Janti Kediri Rangkul Generasi Muda melalui Jaranan Turonggo Seto

Di Kampung Adat Wae Rebo, yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tradisi penti memiliki kekhususan tersendiri. Kampung yang dihuni oleh tujuh rumah adat berbentuk kerucut (Mbaru Niang) ini menjadi salah satu benteng terakhir pelestarian budaya Manggarai yang autentik. Hingga kini, masyarakat Wae Rebo masih memegang teguh nilai-nilai adat dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Makna Mendalam di Balik Upcara Penti

Upacara Penti di Wae Rebo bukan sekedar perayaan yang bersifat seremonial, melainkan mengandung makna filsofis yang sangat dalam bagi masyarakat setempat. Penti menjadi puncak rasa syukur atas segala berkat dan perlindungan yang telah diberikan oleh Mori Kraeng dan para leluhur selama satu tahun penuh.

Lebih dari itu, Penti juga menjadi momentum penting untuk memperat tali persaudaraan. Seluruh warga kampung, termasuk mereka yang telah merantau ke kota atau daerah lain, akan kembali berkumpul di Wae Rebo. Yang menarik, “ana kwai” atau anak perempuan yang telah menikah dan tinggal di kampung suami mereka, juga diwajibkan pulang ke kampung asal untuk mengikuti upacara ini. Tradisi ini menekankan pentingnya ikatan darah dan asal-usul dalam budaya Manggarai.

Baca Juga: Sejarah dan Jenis-Jenis Gamelan Jawa

Bagi Masyarakat Wae Rebo, Penti juga merupakan momen intropeksi kolektif. Mereka merefleksikan segala sesuatu yang telah terjadi selama setahun: konflik yang mungkin pernah terjadi, kesalahan yang telah dilakukan, serta hubungan yang perlu dikhawatirkan. Dengan demikian, Penti menjadi ritual penyucian sosial yang memulihkan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

Rangkaian Ritual Sakral dalam Upacara Penti

Upacara Penti di Wae Rebo diadakan dengan sangat khidmat dan melibatkan serangkaian ritual yang telah ditentukan secara adat. Setiap tahapan memiliki makna simbolis yang kuat dan tidak boleh dilewatkan.

  1. Persiapan dan Pemurnian

Beberapa hari sebelum pelaksanaan upacar, seluruh warga kampung mulai melakukan persiapan. Rumah-rumah adat dibersihkan, sesaji disiapkan, dan berbagai perlengkapan ritual dikumpulkan. Para tetua adat (tu`a golo) akan memipin rapat untuk memastikan semua proses berjalan sesuai aturan leluhur.

Baca Juga: Legenda Sangkuriang Asal-usul Terbentuknya Tangkuban Perahu di Jawa Barat

Pada malam sebelum upacara, diadakan ritual pemurnian di mana seluruh warga berkumpul di compang (altar pemujaan leluhur) berdoa bersama. Mereka memohon agar upacara Penti dapat berjalan lancar dan diterima oleh para leluhur.

  1. Ritual Tura Manuk (Persembahan Ayam)

Ritual Tura Manuk salah satu prosesi paling sakral dalam upacara Penti. Prosesi ini dilaksanakan di compang sebagai bentuk persembahan kepada leluhur, Ayam yang telah dipilih secara khusus akan disembelih oleh tu1a golo dengan doa-doa dalam Bahasa Manggarai.

ayam yang dipersembahkan memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Dalam kepercayaan masyarakat Wae Rebo, darah melambangkan kehidupan dan kekuatan. Persembahan darah ayam dipercaya dapat menyucikan kampung dari segala pengaruh buruk, roh jahat, dan malapetaka yang mungkin menimpa selama setahun terakhir.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Tari Kethek Ogleng, Tari Tradisional asal Jawa Timur yang Unik

Selain itu, ritual ini juga menjadi sarana memohon perlindungan dan keberkahan untuk tahun yang akan datang. Masyarakat percaya bahwa dengan melakukan persembahan dengan tulus dan khidmat, para leluhur akan senantiasa menjaga keturunan mereka.

Prosesi Tura Manuk dihadiri oleh keluarga besar seluruh anggota keluarga besar Wae Rebo. Mereka duduk melingkar di sekitar kompang, mendengarkan doa-doa yang dilantunkan oleh tu`a golo. Suasana Khusyuk dan penuh penghayatan mewarnai prosesi ini, mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat Wae Rebo.

  1. Ritual Barong Wae (permunian di Mata Air)

Setelah ritual Tura Manuk selesai, prosesi dilanjutkan dengan Barong Wae, yaitu ritual penyucian di sumber mata air. Mata air atau wae memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Wae Rebo karena menjadi sumber kehidupan yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Dalam ritual ini, seluruh warga akan berjalan bersama menuju mata air suci yang terletak tidak jauh dari kampung. Dipimpin oleh tu`a golo, mereka melakukan prosesi pembersihan diri dengan air suci sambil mengungkapkan mantra-mantra adat.

Baca Juga: Padepokan Cipto Mudha Laras di Desa Senden Kediri Jadi Wadah Pelestarian Seni Tradisional

Air dalam kepercayaan masyarakat Manggarai melambangkan kesucian, kehidupan, dan pembaharuan. Ritual Barong Wae dipercaya dapat membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan, sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Masyarakat Wae Rebo sangat menyadari bahwa keberlangsungan hidup mereka sangat bergantung pada kelestarian alam, khususnya udara.

Prosesi Barong Wae juga mengandung pesan ekologis yang sangat relevan. Dengan melakukan ritual di mata air, masyarakat diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air. Mereka percaya bahwa jika alam dijaga dengan baik, maka alam pun akan memberikan kehidupan bagi generasi mendatang.

  1. Perayaan Bersama: Tarian Caci dan Jamuan Makan

Setelah ritual sakral selesai dilaksanakan, suasana kampung berubah menjadi meriah. Masyarakat mengadakan perayaan bersama yang diwarnai dengan berbagai kegiatan budaya.

Salah satu atraksi yang paling dinanti adalah tarian Caci, tarian perang tradisional khas Manggarai yang memadukan unsur seni bela diri, tarian, dan musik. Dua orang laki-laki akan bertarung menggunakan cambuk (larik) dan perisai (nggiling) diiringi nyanyian adat dan bunyi gendang yang menghentak. Tarian Caci melambangkan keberanian, kekuatan, dan kejantanan lelaki Manggarai.

Baca Juga: Sanggar Tari Prameswari di Desa Papar Kediri Ini Jadi Wadah Kreativitas dan Pelestarian Budaya

Selain Caci, berbagai nyanyian adat (danding) juga dilantunkan oleh para tetua dan pemuda kampung. Lirik-lirik danding biasanya berisi kisah leluhur, nasihat hisup, atau pujian kepada Tuhan dan alam.

Perayaan puncak adalah jamuan makan bersama. Sekuruh warga kampung duduk bersila menikmati hidangan yang telah disiapkan bersama-sama. Menu utama biasanya terdiri dari nasi, ayam kampung yang telah disaring dalam ritual, sayur-sayuran dan kopi lokal yang khas.

Jamuan makan ini bukan sekedar acara makan, melainkan simbol kebersamaan dan kesetaraan. Tidak ada perbedaan status atau kasta; semua orang makan dari piring yang sama, dan berbagi cerita dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban.

Filsofi Mendalam dalam Tradisi Penti: Upacara Penti di Wae Rebo megandung beberapa nilai filsofis yang menjadi pedoman hidup masyarakat Manggarai.

Baca Juga: Jejak Ramadhan di Tanah Jawa : Padusan, Tradisi Penyucian Diri

Ungkapan Syukur yang Tulus : Penti mengajarkan betapa bersyukurnya atas segala nikmat yang telah diberikan. Masyarakat Wae Rebo memahami bahwa hidup mereka tidak lepas dari campur tangan Tuhan dan restu leluhur. Dengan mengadakan upacara syukuran, mereka mengakui keterbatasan diri dan kebesaran sang pencipta.

Pemulihan Hubungan Sosial: Dalam kehidupan sehari-hari, konflik dan kesalahpahaman tidak dapat dihindari. Penti menjadi momentum untuk memaafkan dan meminta maaf, memulihkan hubungan ynag retak, dan mempererat kembali tali persaudaraan.

Penghormatan terhadap Alam: Ritual Barong Wae mengajarkan pentingnya menjaga keseimbanagn ekologis. Masyarakat Wae Rebo sangat menghormati alam dan menyadari bahwa mereka adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam. Filsofi ini sangat relevan dengan isu lingkungan global saat ini.

Pelestarian Identitas Budaya: Di tengah arus modernisasi yang kuat, Penti menjadi benteng pelestarian budaya Manggarai. Generasi muda diajak untuk memahami dan menghayati nilai-nilai leluhur dan identitas budaya mereka yang tidak punah. Penti bukan sekedar ritual, melainkan simbol kebanggan dan jati diri masyarakat Wae Rebo.

Baca Juga: Fragmen Kepala Ganesha yang Dijarah saat Kericuhan di Kantor Pemkab Kediri Akhirnya Ditemukan

Solidaritas dan Gotong Royong: Persiapan dan pelaksaan Penti melibatkan seluruh warga kampung tanpa kecuali. Semua orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial menjadi kekuatan utama yang membuat tradisi ini tetap lestari hingga kini.

Upacara Upacara Penti bagi Masyarakat dan Pariwisata

1) Menjaga Harmoni Sosial dan Kohesi Masyarakat

Penti mempertemukan seluruh anggota keluarga besar Wae Rebo, termasuk ana kwai yang telah menikah dan tinggal di kampung lain. Momen ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan solidaritas sosial. Dalam era modern di mana individualisme semakin menguat, tradisi seperti penti menjadi pengingat akan pentingnya komunitas dan kebersamaan.

2) Melestarikan Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Leluhur

Upacara Penti mengajarkan nilai-nilai luhur sepertu syukur, kebersamaan, rasa hormat kepada alam, dan rasa hormat kepada leluhur. Nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik langsung, bukan hanya teori. Generasi muda yang terlibat dalam upacara akan memahami dan menghayati makna di balik setiap prosesi.

Baca Juga: Jejak Ramadhan di Tanah Jawa, Nyadran Sarana Penghubung ke Pendahulu

3) Menjadi Daya Tarik Wisata Budaya yang Otentik

Keuinikan dan keaslian upacara Penti di Wae Rebo telah menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak wisatawan yang datang khusus pada bulan November untuk meaksikan upacara ini. Wisata Budaya seperti ini memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal tanpa merusak nilai-nilai budaya yang ada.

Namun, masyarakat Wae Rebo tetap melaksanakan agar upacara Penti tidak menjadi sekedar atraksi wisata, Wisatawan yang datang diwajibkan untuk mematuhi aturan adat dan mengikuti prosesi dengan penuh penghayatan. Dengan demikian keaslian dan kesucian upacara tetap terjaga.

4) Membangun Identitas dan Kebanggan Budaya

Tradisi Penti memperkuat rasa bangga masyarakat Wae Rebo terhadap warisan leluhur mereka. Di tengah gempuran budaya global, memiliki identitas budaya yang kuat menjadi sangat penting. Penti menjadi penanda bahwa masyarakat Wae Rebo adalah penjaga tradisi yang tidak mudah tergerus oleh modernisasi.

5) Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda

Melalui keterlibatan dalam upacara Penti, generasi muda belajar tentang tanggung jawab, disiplin, penghormatan kepada yang lebih tua, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini sangat penting untuk membentuk karakter yang kuat di tengah tantangan zaman.

Baca Juga: Begini Sepak Terjang Sanggar Tari Saraswati di Desa Bangsongan Kayenkidul Kediri

Penutup: Penti sebagai Warisan Tak Ternilai

Upacara Penti di Wae Rebo lebih dari sekedar tradisi. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara manusia dan alam, antara yang fana dan yang transenden. Dalam setipa doa yang dllantunkan, setiap tetes darah ayam yang dipersembahkan, dan setiap tarian yang ditarikan, terkandung kebjiaksanaan leluhur yang telah teruji oleh waktu.

Di era modern yang serba cepat dan individualistis ini, Penti mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan memikirkan hubungan kita dengan sesama, alam, dan sang pencipta. Tradisi ini mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan kita yang menjaga nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan harmonis dengan alam.

Kampung Adat Wae Rebo, dengan tujuh rumah adat kerucut yang megah dan tradisi Penti yang lestari, adalah bukti bahwa modernitas dan tradisi dapat berdampingan dengan harmonis. Semoga upacara Penti terus dilestarikan, bukan hanya sebagai atraksi wisata, tetapi sebagai roh yang terus menghidupi masyarakat Manggarai dan menginspirasi generasi mendatang untuk menghormati warisan leluhur mereka.

Penulis: Emerensiana Jufianti Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

 Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#ritual adat #alam #manusia #tradisi syukuran #wae rebo #Upacara Penti Adat Manggarai #tarian tradisional #leluhur