Khususnya untuk pedagang yang menjual kuliner tradisional. Misalnya cenil, lupis, klepon, dan ongol-ongol. Salah satu pedagang yang menjajakan jajanan tradisional itu adalah Ratna, 22, warga Gurah yang ikut berjualan sama ibunya.
Baca Juga: Wamendag Dyah Roro Widya Putri Terpukau dengan Kampung Tenun Ikat Bandar Kota Kediri
“Tadi (kemarin, Red) pukul 18.00,” ujar Ratna sambil menata jajanannya. Dia memilih berjualan sore karena pengunjung mulai ramai saat malam selepas Maghrib.
Meski baru buka, jajanan yang dijual Ratna sudah banyak peminatnya. Satu orang biasanya membeli lebih dari satu bungkus. Adapun harga jualnya hanya Rp 5 ribu per bungkus.
Baca Juga: Megahnya Kontingen PT Gudang Garam Tbk yang Usung Romansa Ande-Ande Lumut saat Apeksi Nite Carnival
Satu bungkus diisi cenil, klepon, ongol-ongol, dan ketan hitam ditaburi kelapa parut dan gula aren. Seperti Yanto, warga Desa Sambiresik, Kecamatan Gampeng mengaku, membeli jajanan tradisional setiap kali ada acara bersih desa.
"Saya dua bungkus. Persiapan nanti nonton pertunjukan wayang,” akunya. Sementara itu, Liya, 52, warga Tulungagung yang datang ke lokasi bersih desa hanya untuk berburu makanan tradisional.
“Kebetulan acaranya dekat dengan kantor saya,” ucap Liya yang sore kemarin yang memborong 10 bungkus jajanan tradisional itu. Biasanya, jumlah pembeli akan lebih ramai ketika pagelaran wayang dimainkan.
Ratna menyebut, setiap ada event seperti ini omzetnya bisa Rp 200 ribu hingga Rp300 ribu. Penjualannya mulai dari Maghrib hingga habis atau sampai larut malam.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian