Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jadi Aset Tak Benda, Pemkab Kediri Akan Lestarikan Kirab Suroan di Desa Menang, Kecamatan Pagu

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 28 Juni 2025 | 17:00 WIB

 

Suasana Kirab Suroan di Desa Menang, Pagu, Kabupaten Kediri.
Suasana Kirab Suroan di Desa Menang, Pagu, Kabupaten Kediri.

JP Radar Kediri-Di Kabupaten Kediri, perayaan 1 Sura ditandai dengan kirab di area Petilasan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Kirab yang berlangsung sejak pagi kemarin (27/6) dipadati ribuan warga.

Prosesi kirab seperti kemarin juga telah berlangsung rutin setiap tahun. Mulai sejak 1975. Karena itulah Pemkab Kediri menegaskan bahwa prosesi tersebut akan dipertahankan dan dilestarikan. Menjadi aset tak benda Kabupaten Kediri.

“Ini adalah aset luar biasa yang perlu kita lestarikan,” ucap Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Mustika Prayitno Adi.

Menurut kepala dinas yang karib disapa Mustika ini, kirab yang berlangsung sejak pukul 09.00 itu merupakan wisata budaya. Dan akan terus didukung agar Lestari.

“Kami tetap mendukung. Saya juga diskusikan ke depan kami perlu blow up lagi. Apa yang diperlukan untuk memajukan, kami akan back up dari sisi pendanaan dan lain-lain,” tekannya.

Apalagi, nanti aka nada Museum Sri Aji Jayabaya. Bila pembangunannya sudah tuntas dan dibuka untuk umum maka prosesi kirab 1 Sura akan dikolaborasikan.

“Jadi mungkin  kalau museum sudah terbangun ini bisa terkolaborasi Namun konsep seperti apa tunggu museum dulu. Kami akan diskusikan nanti,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, prosesi kirab kemarin disaksikan ribuan orang. Tidak hanya dari Kediri maupun luar daerah saja, juga disaksikan wisatawan manca negara. Tepatnya warga negara Prancis.

Prosesi kirab berawal dari Balai Desa Menang. Kemudian iring-iringan berjalan menuju ke lokasi petilasan yang dianggap tempat pamuksan Raja Jayabaya. Di tempat ini berlangsung prosesi nyekar.

“Ini sebagai tanda bakti dan penghormatan kepada Sang Prabu yang diyakini telah membawa kejayaan bagi rakyat Kediri pada masanya,” terang Pengurus Yayasan Hondodento, yayasan yang menginisiasi kegiatan ini pertama kali, Chatarina Etty.

Menurut Chatarina, yang mengikuti prosesi tidak hanya datang dari Kediri. Sebab, keluarga besar Hondodento tersebar di berbagai daerah. Seperti Surabaya, Kalimantan, Jakarta, dan lainnya. Setiap 1 Sura mereka selalu berkumpul di tempat ini untuk mengikuti upacara.

“Saya sendiri tidak tahu mengapa tradisi ini terus berjalan hingga sekarang. Bahkan setelah diserahkan ke pemerintah desa dan kabupaten. Tapi nyatanya, hingga hari ini banyak yang datang dari berbagai daerah,” terangnya. (*)

 

 

Editor : Mahfud
#desa menang #suroan #sri aji jayabaya #petilasan