Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melongok Situs Purbakala di Kediri yang Kondisinya Memprihatinkan

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 22 Maret 2025 | 04:54 WIB
Kondisi situs Watu Gilang di Desa Jambean, Kras yang berlumut tidak banyak diketahui oleh warga sekitar.
Kondisi situs Watu Gilang di Desa Jambean, Kras yang berlumut tidak banyak diketahui oleh warga sekitar.

Nasib situs-situs ini mengenaskan. Lokasinya yang jauh dari permukiman membuat tak banyak orang yang tahu keberadaannya. Ironisnya, ada pula yang justru berniat merusak.

Namanya Situs Watu Gilang. Berada di Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Tempatnya jauh dari permukiman warga. Berada di tengah persawahan. Lebih dekat dengan tempat pemakaman umum (TPU).

Wajar bila situs tersebut jarang diketahui orang. Pun oleh warga Desa Jambean. Salah satu buktinya adalah ketidaktahuan Agesti, remaja yang juga mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kediri.

“Saya asli sini (Desa Jambean, Red) tapi tak tertarik sejarah. Juga tak terlalu tahu dengan situs tersebut,” dalihnya ketika ditanya tentang situs tersebut.

Saat itu Agesti tengah mengantar ibunya berbelanja di toko kelontong. Jarak toko tersebut dengan Situs Watu Gilang hanya 1,5 kilometer.

Sang ibu, Agustin, juga setali tiga uang alias sama saja. Dia tak tahu-menahu tentang situs di desanya tersebut. Yang dia ketahui hanya plang bertuliskan penunjuk arah keberadaan situs.

Padahal, sudah 50 tahun dia bermukim di desa ini. Ironisnya, Agustin tak sendirian. Mayoritas warga desa juga tak mengetahui asal-usul situs. Hanya segelintir orang saja yang paham sejarahnya. Mereka adalah para sesepuh desa.

“Ya yang tahu biasanya tetua desa yang masih menjunjung tinggi nilai sejarah. Dan mensakralkan benda-benda peninggalan masa lampau,” kilah Agustin.

Padahal keberadaan benda cagar budaya ini perlu dirawat dan dilindungi. Sebab menjadi sumber pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Bahkan bisa jadi berisi kisah latar belakang terbentuknya desa.

Mirisnya, tidak semua orang memiliki kesadaran untuk melestarikan benda berstatus cagar budaya itu. Beberapa dari mereka membiarkan ketika terjadi kerusakan pada ornamen. Tak hanya itu, sebagian orang dengan sengaja melakukan perusakan. Seperti memukul benda menggunakan palu.

“Kemarin sempat mendengar berita kalau dirusak orang tidak waras. Yang menyebabkan bagian ujung terbelah,” ceritanya. Ada raut muka menunjukkan rasa kecewa ketika Agustin mengatakan hal itu.

Pantauan koran ini, bagian ujung batu ambang berinskripsi memang terbelah menjadi tiga. Bahkan terpaksa diberi batu penyangga tambahan agar bisa membentuk wujud asalnya.

Permukaan benda tersebut dipenuhi dengan lumut yang sudah berwarna hijau tua. Dedaunan kering tampak jatuh berserakan di bagian atas. Tak hanya itu, banyak rumput yang tumbuh liar di area sekitarnya.

Kondisi ini sedikit berbeda dengan Situs Prasasti Lucem. Meskipun sama-sama terletak di tengah persawahan yang aksesnya sulit, situs ini lebih terjaga. Dikelilingi dengan pagar pembatas. Sehingga tidak sembarang orang bisa masuk dan menyentuhnya.

“Situs ini memiliki juru pelihara meskipun tidak setiap saat berada di lokasi. Selain itu, masih banyak komunitas pecinta sejarah yang sering datang untuk berkunjung,” papar Sumarno, 54, petani yang sedang menggarap di area persawahan.

Bagi Sumarno, keberadaan Prasasti Lucem ini lekat dengan cerita sejarah di daerahnya. Sehingga tidak mengherankan jika masyarakat juga turut menjaga kelestariannya.

“Kalau petani sekitar sini banyak yang peduli. Sekiranya ada orang yang mencurigakan pasti akan dihampiri dan ditanya keperluannya,” imbuhnya.

Termasuk ketika ada pengunjung yang pertama kali dating. Warga sekitar akan turut memberi bantuan petunjuk arah. Wisatawan asing tidak akan cukup hanya dengan plang bertuliskan “Prasasti Lucem”. Sebab akses yang dilalui untuk sampai ke lokasi hanya setapak saja.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #situs purbakala #pemkab kediri #situs adan adan #Situs Watu Gilang #situs