KEDIRI, JP Radar Kediri- Masyarakat Kota Kediri pasti sudah familiar dengan kelenteng satu ini. Kelenteng Tjoe Hwie Kiong merupakan salah satu kelenteng yang ada di kota Kediri.
Berdiri di sisi timur sungai brantas, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Nomor 148, Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Kelenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1817.
Dengan usianya yang cukup tua serta mengandung nilai historis, tempat ibadah bagi etnis Tionghoa ini termasuk dalam cagar budaya yang dilindungi di Jawa Timur.
Sayangnya, masih belum diketahui secara pasti siapa pendiri dari kelenteng ini. Banjir yang melanda Kediri pada tahun 1955 lalu merupakan salah satu banjir besar yang pernah terjadi di Kediri.
Banjir besat itu menghanyutkan dokumen-dokumen penting kelenteng sehingga tidak diketahui siapa pendiri asli dari kelenteng Tjoe Hwie Kiong, termasuk catatan sejarahnya.
Tetapi, menurut sejarah yang turun-temurun diceritakan dari para sesepuh, dahulu kala ada seorang dari Negera Tirai Bambu yang singgah ke Kota Kediri melalu sungai Brantas. Saat itu masih menjadi jalur perdangan.
Orang itu diketahui turun di sekitar kawasan di mana Kelenteng Tjoe Hwie Kiong berdisi saat ini. Sesaat setelah ia memijak daratan, orang tersebut langsung mendirikan sebuah tempat ibadah yang sederhana untuk berdoa.
Sebab, sudah menjadi hal yang biasa bagi para perantau asal Negeri Tirai Bambu untuk selalu membawa dewa mereka saat bepergian. Terutama pada saat perjalanan yang jauh.
Setelah mendirikan tempat ibadah, orang itu meletakan Dewi Samudra atau yang dikenal juga dengan Tian Shang Sheng Mu dalam kepercayaan Tionghoa, di sisi sungai brantas.
Lambat laun, perantau dari Negeri Tirai Bambu semakin banyak berdatangan ke Kediri dan ikut berdoa di tempat ibadah yang didirikan sang perantau. Para perantau tersebut juga membawadewa dewi mereka masing-masing.
Tempat ibadah yang awalnya sederhana semakin lama semakin besar. Hingga kini berdirilah Kelenteng Tjoe Hwie Kiong seperti yang kita ketahui.
Di Kelenteng ini, Dewi Tian Shang Sheng Mu menjadi tuan rumahnya. Altar sang dewi terletak di bagian belakang tengah menghadap ke arah sungai Brantas.
Untuk patung-patung dari dewa dewi yang dibawa para perantau, diletakan di sisi-sisi lain dari bangunan Kelenteng.
Selain menjadi tempat ibadah, tidak sedikit pengunjung datang untuk sekadar melihat keindahan Kelenteng ini. Selain itu juga, pengunjung juga mengetahui sejarah serta budaya di kelenteng tersebut. (Mahasiswa Magang PNM Nabila Syifa’ul)
Editor : Andhika Attar Anindita