KEDIRI, JP Radar Kediri- Ada yang menarik dari deretan benda kuno yang dipamerkan di Taman Sekartaji sejak Jumat (13/9) lalu itu. Yaitu perhiasan Garudeya seberat 1,163 kilogram yang terpajang dalam kotak kaca.
Benda dengan warna kuning keemasan itu merupakan replika benda purbakala serupa yang, aslinya, terbuat dari emas 22 karat.
Replika benda kuno era Airlangga itu dulu ditemukan di Desa Plaosan, Kecamatan Wates pada 1989. Saat ini menjadi koleksi Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo.
Replika Garudeya itu tengah dipamerkan di Taman Sekartaji, Kota Kediri. Kedekatan benda kuno tersebut dengan wilayah Kediri sebagai daerah penemuannya menjadi alasan.
Tepatnya di antara berbagai benda kuno yang dipamerkan dari lima museum lainnya di Jawa Timur.
Warjo, pemandu Museum Mpu Tantular mengatakan, dulunya perhiasan itu ditemukan oleh warga setempat bernama Seger.
Karena telah menemukan objek sejarah berharga itu, dia diberi dua pilihan oleh pemerintah saat itu.
“Mau diangkat jadi pegawai museum atau dia ingin bersekolah sampai sarjana. Akhirnya si saudara Seger ini milihnya sekolah sampai sarjana,” ceritanya.
Saking tingginya nilai perhiasan tersebut, objek yang dipamerkan itu hanya replika. Garudeya yang asli saat ini tersimpan di Museum Mpu Tantular dengan teknologi penyimpanan berlapis.
“Di museum (Mpu Tantular) ini juga menjadi ikon museum. Kami buat pagar berlapis demi keamanan. Jadi di situ saf tiga pagarnya.
Salah satunya pakai kode untuk membukanya,” bebernya terkait pengamanan perhiasan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional pada 2023 itu.
Warjo memaparkan, ada beberapa pendapat terkait perhiasan tersebut. Salah satunya, pendapat Prof Edi Sedyawati bahwa perhiasan Garudeya itu berasal dari zaman Airlangga di abad XI masehi.
Baca Juga: Menarik Perhatian Warga, Ada Pohon Pisang Berbuah Telur Keliling Ngadiluwih
Asumsi itu didukung dengan adanya hiasan garuda yang merupakan ciri khas zaman Airlangga. Dengan begitu, perhiasan itu diperkirakan dikenakan di depan dada.
“Dan ada versi lain bahwa ini (penggunannya, Red) dicantolkan. Masih dalam penelitian juga,” urainya terkait pendapat lain terkait fungsi perhiasan itu sebagai alat upacara.
Adapun perhiasan Garudeya itu terdiri dari tiga bagian ornamen. Yakni, ornamen burung garuda yang membawa kendi (kamandalu) berisi air amrta atau air kehidupan.
Kemudian, ornamen raksasa yang membawa gada. Dan yang terakhir, ornamen raksasa dengan kedua tangan bersikap menyangga.
Dari relief yang terukir di perhiasan Garudeya tersebut, terdapat cuplikan dari cerita Adiparwa, salah satu bagian dari Kitab Mahabarata yang menggambarkan cerita Garudeya.
Saat itu, Garudeya mencari air amrta untuk menebus ibunya yang ditawan Dewi Kadru. Di atasnya, terdapat relief telapak tangan kiri dengan hiasan motif lidah api.
Atau yang dikenal sebagai simbol kekuasaan Dewa Siwa sebagai dewa perusak atau destruktif.
Menurut Warjo, saat ditemukan kondisi perhiasan tersebut tak sepenuhnya utuh. Beberapa batu permata yang menghiasi Garudeya sudah tidak lengkap sejak ditemukan.
Seharusnya, ada 60 buah batu permata. Namun saat ditemukan hanya ada 48 buah batu permata.
“Karena posisinya tidak tahu ya karena perang juga saat itu. Mungkin waktu dikenakan ada yang jatuh,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Perhiasan Garudeya dan beberapa benda kuno lainnya dihadirkan lebih dekat ke masyarakat dengan dipamerkan di Taman Sekartaji selama Jumat (13/9) hingga hari ini (15/9). Selain Museum Mpu Tantular, ada juga koleksi dari Museum Airlangga, Kota Kediri; Museum Anjuk Ladang, Nganjuk; Museum Daerah, Tulungagung; serta Museum 10 November, Surabaya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah