KEDIRI, JP Radar Kediri – Ekskavasi yang dilakukan tim Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim di Candi Klotok pada hari terakhir kemarin, memunculkan temuan baru. Saat melacak aliran air di area patirtan, mereka menemukan jaladwara alias pancuran air yang ratusan tahun silam diyakini dimanfaatkan di sana.
Patirtan terletak di selatan Candi Klotok 2. Berjarak sekitar 400 meter dari kompleks situs yang digali sejak tahun 2018 lalu itu. Ketua Tim Ekskavasi Candi Klotok BPK Jatim Nugroho Harjo Lukito mengatakan, jaladwara ditemukan kemarin siang. “Hari ini (kemarin) kita temukan jaladwara yang masih insitu (tetap di tempat, Red), masih menancap,” kata Nugroho.
Lajawadra, lanjut Nugroho, berfungsi sebagai tempat keluarnya air lewat jaringan yang ada di antara batu bata. “Seharusnya ada tiga. Tapi yang ketemu utuh baru satu. Yang satu lagi hanya bagian belakangnya. Yang satunya lagi belum ditemukan,” lanjut Nugroho.
Selain jaladwara, menurut Nugroho tim juga berhasil menemukan saluran air yang membawa air dari sumber menuju ke bak kontrol. Air dari sana kemudian dialirkan ke bilik-bilik di patirtan.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, total ada tiga bilik yang terlihat di kawasan patirtan tersebut. “Keseluruhan di petirtaan untuk tahap 4 ini ditemukan bilik tiga, jaladwara, dan inlet (saluran masuknya air, Red),” papar Nugroho.
Temuan selama beberapa hari terakhir menurut Nugroho sesuai dengan dugaan tim saat melakukan ekskavasi tahun lalu. Saat itu mereka sudah menengarai jika di area patirtan ada bilik-bilik untuk mengalirkan air dari sumber. Hanya saja, dalam temuan kali ini diketahui jika strukturnya bertingkat.
Jika dilakukan penggalian ke sisi selatan, Nugroho menduga di sana masih ada konstruksi bilik bertingkat yang serupa. “Mudah-mudahan tahun depan bisa kita programkan lagi,” harapnya.
Seperti diberitakan, selain di patirtan, tim juga melakukan ekskavasi area situs Candi Klotok 2. Di sana, mereka menemukan struktur paseban yang berada tepat di bawah Candi Klotok 2. Paseban berukuran 12 x 6 meter itu dilengkapi anak tangga di sisi selatannya.
“Konstruksinya dilengkapi sebuah tangga di sisi selatan. Karena konstruksi sisi selatan itu tinggi, ada 2 meter lebih. Mengharuskan orang menaiki tangga untuk mencapai ke paseban,” jelasnya.
Setelah ekskavasi dihentikan kemarin, Nugroho menyebut kawasan situs tetap akan dijaga. Hal tersebut menghindari kemungkinan perusakan atau penjarahan di objek budaya itu.
Selebihnya, Nugroho mendorong Pemkot Kediri agar segera mengelola situs. Adapun BPK Jatim bertugas mengawasi objek bersejarah tersebut. “Karena kan tujuan utamanya tetap untuk kepentingan (edukasi, Red) masyarakat,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Zachrie Ahmad mengatakan, ekskavasi kawasan Candi Klotok masih akan berlanjut. Sebelum mengelola kawasan untuk masyarakat umum, pemkot akan berkoordinasi dengan Perhutani selaku pemilik lahan, dan BPK Jatim.
“Pemerintah daerah memang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat terkait peninggalan sejarah yang ada di wilayah kita. Arahnya ke situ nanti,” tuturnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah