Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Ponpes Ringinagung, Santri Hobi Masak Sayur Tumis Peluru

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 10 April 2023 | 18:11 WIB
SEDERHANA: Santri Ponpes Ringinrejo tengah menyiapkan menu masakan berupa tumis peluru untuk persiapan berbuka puasa. (Foto: Habibah A. Muktiara)
SEDERHANA: Santri Ponpes Ringinrejo tengah menyiapkan menu masakan berupa tumis peluru untuk persiapan berbuka puasa. (Foto: Habibah A. Muktiara)
Ada menu khas yang selalu dirindu oleh alumni Ponpes Ringinagung, yaitu tumis peluru. Menu berbahan utama kulit melinjo ini jadi makanan favorit para santri. Sayang, kini masakan itu jarang ditemui.

Soal masakan di Ponpes Ringinagung bukan hanya kokinya saja yang khas. Menunya pun ada yang sangat melegenda. Terutama bagi mereka yang pernah mondok di pesantren yang ada di Dusun Ringinagung, Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini. Menu itu adalah sayur tumis peluru.

Menu tersebut sangat melegenda. Menjadi resep yang turun-temurun. Sayang, tidak ada catatan yang menyebutkan kapan pertama kali resep sayur ini jadi makanan favorit para santri.

“Menu ini adalah sayur tumis kulit melinjo,” terang Kepala Pondok Pesantren Ringingagung Ashanum Ni’am.

Lalu, mengapa disebut tumis peluru? Ternyata, ini disebabkan karena kulit melinjo yang dibuat tumis dibiarkan hampir utuh. Bentuknya yang lonjong membuatnya mirip peluru.

Tidak ada yang istimewa dengan resep masakan ini. Bumbunya juga dari bahan-bahan sederhana. Namun, menu tersebut membuat alumni pesantren sangat merindukan.

“Tidak hanya santri, alumni kalau ke sini yang ditanya adalah menu kulit melinjo tersebut,” imbuhnya.

Laki-laki asal Ponorogo ini menceritakan bahwa di lingkungan pondok dulu memang banyak sekali pohon melinjo. Karena buahnya yang banyak kemudian dimanfaatkan oleh santri menjadi olahan makanan. Maka terciptalah menu sayur tumis peluru tersebut.

Hingga akhirnya menu tumis melinjo jadi yang paling favorit. Bila dibandingkan masakan bermenu dari daging, para santri lebih suka yang itu. Bahkan, acara sebesar haflah pondok pun menunya tetap menyediakan itu, sayur tumis peluru!

Sayur tumis peluru ini pun menjadi menu turun-temurun. Ni’am masih ingat pertama kali merasakannya. Saat itu, karena baru mencoba, dia  agak kaget. Kulit melinjo yang bertekstur kasar membuatnya tidak terbiasa. Namun, karena sering dijadikan masakan akhirnya pria ini jadi terbiasa.

Beberapa santri pun jadi ‘ahli’ dalam hal memasak tumis peluru ini. Salah satunya adalah Fadlan. Pemuda 22 tahun ini mengaku mendapatkan resep masakan tersebut saat pertama kali menjadi santri.

“Saya masuk tahun 2013. Diajari senior pondok membuat sayur peluru,” kenang Fadlan, saat ditemui di gubuknya.

Sore itu Fadlan tengah mempersiapkan menu untuk buka puasa. Sambil kedua tangannya sibuk menumis ia menceritakan pengalamannya dengan masakan sayur peluru.

Pemuda asal Palembang ini mengaku sebelum masuk pondok sebenarnya familiar dengan masakan menggunakan bahan kulit melinjo. Karena di tempat asalnya makanan tersebut banyak dijual. Namun di pondok tersebut baru pertama kalinya ia mengolah sendiri.

Masakan sayur peluru ini berupa tumisan. Bumbu yang digunakan adalah bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dan gula. Saat memasak dicampur dengan tempe.  Resep tersebut sudah diturunkan dari generasi ke generasi.

Sayang, saat ini pohon melinjo itu buahnya mulai menurun. Akhirnya para santri harus membeli di pasar. Sayang, kulit melinjo tidak selalu tersedia.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini