Empat pemuda menari di halaman satu rumah di Desa Banjaranyar, Kecamatan Kras. Dua kaki mereka yang bercelana hitam gombor bersetrip merah mengepit kuda kepang. Bertelanjang dada, tangan para penari itu juga memegang pecut. Sementara, di kepala hanya berhias udeng.
Kesederhanaan tak hanya terlihat dari kostum yang mereka kenakan. Musik pengiringnya pun terkesan minimalis. Bukan satu perangkat gamelan lengkap yang dimainkan pengrawit yang berkumpul di teras rumah, yang posisinya lebih tinggi dari halaman itu. Hanya ada kendang, kempul, dan angklung. Tak ada tiupan terompet bersuara melengking seperti biasa menghiasi kesenian jaranan pada umumnya.
“Mungkin, orang-orang banyak yang tahunya jaranan kreasi. Jarang yang mengenal jaranan Jawa ini,” ucap Didik Pranoto, yang duduk di antara para pemain gamelan. Lelaki ini adalah wakil pengurus Paguyuban Jaranan Jawa Kecamatan Kras.
Ya, jaranan yang sedang show di hari mendung itu adalah grup jaranan Jawa bernama ‘Turangga Satria Muda’. Jenis jaranan yang diakui asli Kediri. Saat itu mereka tampil dalam acara ‘bersih-bersih’ rumah yang lama terbengkalai.
“Jaranan Jawa masih mempertahankan gerakan asli mbah-mbah terdahulu,” ucap Sunarto, pemilik kelompok jaranan tersebut.
Jaranan Jawa selama ini seperti tertutup oleh gemerlapnya jaranan kreasi. Padahal, inilah kesenian yang telah didaftarkan menjadi kekayaan intelektual komunal (KIK) dari Kabupaten Kediri. Sejak itu, jenis jaranan ini mulai dikenal orang.
Menurut Bapa Narto-demikian Sunarto biasa dipanggil-jaranan Jawa erat dengan makna syukur. Serta memohon kemurahan Tuhan. Kesenian kuda lumping ini masih kental dengan unsur Jawa kuno. Termasuk dalam babak-babak yang ditampilkan dalam pertunjukan.
“Ada tujuh babak dalam pertunjukan jaranan Jawa. Termasuk selamatan penutup,” terang Dekky Susanto, komite tari dan jaranan Dewan Kesenian Kabupaten Kediri (DK4).
Setiap pertunjukan jaranan Jawa akan diawali dengan slametan terlebih dulu. Setelah itu diteruskan dengan suguh, yang intinya meminta izin Tuhan agar pertunjukan berjalan lancar. Baru setelah itu tampil para penari jaranan di babak tayuman. Berlanjut ke babakan banjaran, barongan, perang kalasrenggi yang menampilkan adegan celengan, baru kemudian diakhiri dengan slametan penutup.
“Ceritanya berdasar kisah Dewi Sri Sedana, dewi kesuburan,” terang Dekky.
Jaranan Jawa sangat lekat dengan budaya daerah pegunungan. Bukan hanya berdasarkan kisah Dewi Sri saja. Tembang-tembang yang mengiringi juga berisikan tentang Gunung Kelud. Seperti lagu berkisah tentang mbledose (meletusnya) Gunung Kelud.
Bapa Narto mengakui, jaranan Jawa kalah populer dengan jaranan kreasi. Karena itu juga jarang ditanggap oleh masyarakat. Sampai-sampai, demi bisa menggelar pementasan, anggota jaranan harus patungan sendiri.
“Bagi kami jaranan hanya selingan pekerjaan,” terangnya.
Munculnya jaranan Jawa sebagai KIK menjadi angin segar bagi para penggiatnya. Karena mereka mulai dikenal masyarakat. Meskipun demikian, bagi para penggiat seni ini, upaya tersebut harus ditopang dengan kegiatan yang berkesinambungan. Dikenalkan sejak dini ke masyarakat melalui kurikulum sekolah.
Didik membayangkan, bila jaranan ini masuk kurikulum sekolah, kemudian bila ada warga Kediri ke luar kota dan ditanya asalnya, akan dikaitkan langsung dengan keberadaan jaranan Jawa ini.
“Dari mana Mas? Dari Kediri? Woh, berarti mesti isa njaran (pasti bisa menari jaranan, Red),” ucap Didik membayangkan percakapan itu.
Harapan itu, mungkin saja, akan terjadi. Sebab, menurut Dekky, saat ini tengah diupayakan memasukkan seni jaranan Jawa ke bangku sekolah. “Akan dimasukkan dalam mulok (muatan lokal, Red),” terangnya.
Upaya itu juga sangat serius. Karena pihak DK4 tengah menggelar workshop tentang gagrag (versi) yang singkat. Selama delapan sampai sepuluh menit. “Biasa disebut gagrag madya (tarian penerima tamu, Red),” terangnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah