KABUPATEN, JP Radar Kediri-Festival Kuno-Kini di area Simpang Lima Gumul (SLG) masih akan berlangsung hingga Minggu (1/6) nanti. Setidaknya masih ada waktu tiga hari lagi untuk berburu kuliner jadul hingga kekinian, mulai harga Rp 5 ribu saja. Untuk memastikan kenyamanan masyarakat dalam berbelanja, panitia sudah melakukan penertiban dan mendirikan posko aduan jika ada pedagang yang curang.
Manajer Event Jawa Pos Radar Kediri Puspitorini Dian Hartanti mengatakan, setelah munculnya keluhan pengunjung terkait beberapa harga makanan yang dinilai mahal, pihaknya langsung mengambil langkah. Salah satunya memerintahkan stan memasang daftar harga makanan atau produk mereka.
Selebihnya, pengunjung juga bisa menanyakan harga lebih dulu saat akan bertransaksi. “Terkait aduan terhadap salah satu stan, kami juga sudah menindaklanjuti dengan meminta penjual tersebut agar menempelkan daftar harga,” ujarnya.
Untuk diketahui, kemarin panitia juga menindak tegas stan dengan materi promosi yang dinilai mengecoh pembeli. Stan yang jadi perbincangan luas itu langsung ditutup sementara oleh panitia. Selanjutnya, stan baru diperbolehkan buka setelah mencantumkan daftar harga secara pasti.
“Panitia juga menyiapkan posko aduan di sekretariat panitia bagi pengunjung yang merasa mengalami harga tidak wajar atau dicurangi. Kami imbau untuk mendatangi posko untuk pengaduan,” pinta perempuan yang akrab disapa Dian itu.
Hingga hari ke tujuh kemarin, Festival Kuno-Kini tetap dibanjiri pengunjung. Sejak pukul 10.00 hingga pukul 15.00 kemarin, total ada 6.325 pengunjung yang masuk ke area pameran dari tiga gate di sana.
Jumlah pengunjung diprediksi masih akan melonjak tinggi hingga tadi malam. Sebab, momentum long weekend biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk mencari hiburan murah dan gratis di area SLG.
Apalagi, di luar long weekend pun pengunjung Festival Kuno-Kini bisa mencapai puluhan ribu orang setiap harinya. Seperti pada Rabu (28/5) lalu yang jumlah kunjungan berdasar hitungan checker mencapai 26.164 orang.
Para pengunjung tidak hanya berbelanja di ratusan stan yang ada di area pameran. Melainkan tidak sedikit pula yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan seni di dua panggung di sana. Selebihnya, orang tua dan anak-anak banyak yang memanfaatkan area permainan jadul.
Sementara itu, berbagai kuliner dengan harga merakyat tetap jadi buruan masyarakat. Seperti di stan rambut nenek dengan harga Rp 5 ribu per porsi yang dijual oleh Legiman. “Biasanya jualan di pasar, pindah-pindah. Sama di CFD. Harganya tetap sama,” ungkap Legiman.
Berjualan sejak awal tahun 2000-an, bagi pria asal Gurah itu kualitas dan kepercayaan pelanggan jadi yang utama. Pembeli langganannya pun hafal tempat jualan hingga harga yang dibanderolnya.
Selama mengikuti Festival Kuno-Kini, rata-rata tiap hari dia memproduksi lima kilogram gula untuk dijadikan rambut nenek. Itu lebih tinggi dibandingkan hari biasa yang hanya tiga kilogram gula. “Biasanya selalu habis,” akunya.
Terpisah, Rio Hardianto, penjual es jeruk peras di area Festival Kuno-Kini juga bersyukur dagangannya selalu laris. Karenanya, dia menyayangkan tentang kabar yang menyebut penjualan jeruk peras yang harganya mahal. Sebab, harga yang dipatok di dalam pameran dan di luar pameran selalu sama.
“Harganya sama, nggak kami naikkan,’ ungkap Rio sembari menyebut di lokasi pameran ada beberapa pedagang jeruk peras seperti dirinya.
Rio mematok harga jeruk peras mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per gelas. Tergantung ukuran besar atau kecil gelas yang diminta konsumen.
“Kami pakai jeruk Sunkist dan murni tanpa tambahan air dan gula. Misal untuk satu cup ukuran sedang itu kami pakai 4–5 jeruk, tergantung ukurannya. Dan nggak ditambah air dan gula lagi sudah manis,” paparnya.
Di luar minuman jeruk peras, pengunjung masih memiliki banyak alternatif minuman dengan harga murah. Yakni, mulai seribu rupiah untuk kudapan, hingga es teh dan es jeruk mulai harga Rp 3 ribu per gelas.
Untuk diketahui, Festival Kuno-Kini berlangsung mulai 23 Mei–1 Juni. Selain diramaikan 257 stan UMKM, festival yang digelar di area Monumen SLG itu juga dimeriahkan berbagai hiburan, perlombaan, dan workshop.
Di beberapa sudut pameran juga terdapat permainan-permainan jadul yang bisa dimainkan. Pun dengan berbagai kuliner tradisional yang mengajak pengunjung bernostalgia dengan kehidupan jaman dulu.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira