JP Radar Kediri - Di tengah derasnya gelombang ilmu dan teknologi, masyarakat masih sering memperdebatkan: intinya yang lebih tinggi, adab atau ilmu? Pertanyaan sederhana ini ternyata menyimpan makna mendalam dan terus dibicarakan hingga kini. Adab dan ilmu merupakan nilai penting sejak kecil, nilai-nilai itu menjadi bekal kelak ketika si anak sudah tumbuh besar.
Meskipun sama-sama penting, apa benar kalau adab lebih tinggi daripada ilmu?
Terdapat pepatah klasik berbunyi 'Al-Adabu Fauqol Ilmi' yang artinya adab lebih tinggi dari ilmu. Pepatah ini sering dikutip di pesantren dan majelis ilmu, menegaskan bahwa adab adalah fondasi sebelum ilmu.
Baca Juga: Bikin Tenang! Rahasia Mencintai Ilahi dengan Cara Refleksi lewat Rahasia Cinta Ilahi
Selain itu, imam besar seperti Imam Malik pernah berkata:
Layanan Pelanggan yang Aman
Yang artinya "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Imam Malik menegaskan jika ingin menyempurnakan ilmu yang dipelajari, maka menyempurnakan terlebih dahulu akhlak nya.
Dalam kitabnya Syekh Hasyim Asy'ari berjudul Adab Al-'Alim Wa Al-Muta'allim, beliau berkata:
التوحيد يوجب الإيمان, فمن لا إيمان له لا توحيد له, والإيمان يوجب الشريعة, فمن لا شريعة له لا إيمان له ولا توحيد له, والشريعة توجب الأداب, فمن الآداب له لا شريعة له ولا إيمان له ولا توحيد له
Artinya: “Tauhid mewajibkan wujudnya iman, barang siapa yang tidak beriman, maka sebenarnya dia tidak bertauhid. Dan iman mewajibkan wujudnya syariat, maka barang siapa yang tidak melakukan syariat, sebenarnya dia tidak beriman dan tidak pula bertauhid.
Baca Juga: Jadwal Imsak Kediri Hari Ini Rabu, 25 Februari 2026: Lengkap dengan Waktu Salat
Terkait dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa menghormati guru adalah bagian penting dari adab jalannya ilmu. Di zaman sekarang kita sering menjumpai fenomena orang-orang yang pintar secara akademis, memiliki gelar dan pengetahuan luas, namun kurang menjaga adab.
Akibat hilangnya adabnya, ilmu yang di dalamnya dapat menjadi sumber kehancuran seseorang. Ilmu yang seharusnya menjadi contoh teladan, malah berubah menjadi kesombongan. Para ulama menyetujui perkara adab lebih tinggi dari ilmu.
Hadits dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya No. 8952).
Biarpun adab lebih tinggi dari ilmu, tapi tetap saja menimba ilmu juga penting sekali. serupa hadits Nabi:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR Ibnu Majah No. 224, dari sahabat Anas bin Malik ra., disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami'ish Shaghiir No. 3913).
Baca Juga: Efek Minum Kopi saat Sahur: Bagaimana Bikin Cepat Haus dan Lemas?
Nabi Muhammad SAW. mengajak umatnya untuk menuntut ilmu. Namun jangan lupa untuk mempelajari adab, karena ilmu tanpa adab bisa kehilangan arahnya, sementara adab tanpa ilmu bisa kehilangan nilai. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melaikan untuk dipadukan agar menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju keberkahan.
Penulis adalah Muhammad Iqbal Rasyid, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian