Jejak pengaruh itu bukan fenomena dadakan. Ia merupakan “tinta emas” yang ditorehkan melalui proses kaderisasi panjang di lingkungan pesantren. Para alumni Lirboyo menyebar ke berbagai penjuru negeri, membawa nilai-nilai keilmuan dan kebangsaan yang tidak termakan zaman.
Baca Juga: Panduan Membayar Utang Puasa Ramadhan, Lengkap dengan Niat Puasa Qadha dan Cara Mengerjakannya
Emas yang Ditempa Tradisi
Kualitas para alumni ponpes Lirboyo lahir dari kawah candradimuka bernama Bahtsul Masail . Dalam forum ini para santri tidak hanya belajar menghafal kitab, tapi juga belajar untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan mencari solusi untuk suatu permasalahan dengan menggunakan refrensi dari kitab kuning.
Tradisi tersebut menjadikan karakter santri terbentuk, tangguh secara mental dan mendalam secara keilmuan, sehingga mereka terbiasa dala menghadapi perbedaan pendapat dengan landasan argumen ilmiah.
Kilau didikan Lirboyo yang bisa diliat publik pada sosok Almaghfurlah KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, ulama kharismatik yang dikenal sebagai penjaga persatuan bangsa. Begitu pula dengan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, yang mampu menjembatani nilai-nilai pesantren ke dalam wacana akademik kebangsaan hingga tingkat global. Kedua tokoh tersebut adalah representasi dari ribuan alumni lain yang kini berkiprah di berbagai bidang.
Baca Juga: Puasa Ramadhan 2026 Mulai Kapan? Ini Prediksi Kalender Hijriah Versi Kemenag, NU, dan Muhammadiyah
Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL)
Jejak alumni santri Lirboyo juga terjaga melalui solidaritas Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL). Organisasi yang didirikan pada 15 Maret 1996 ini menjadi wadah silaturahmi hingga jaringan pegabdian yang mempersatukan para alumni santri di Nusantara.
Melalui jaringan tersebut, nilai-nilai keilmuan dan tradisi pesantren Lirboyo terus diterapkan diberbagai daerah. Banyaknya alumni yang mendirikan pesantren, madrasah, maupun majelis taklim, menjadikan perpanjangan tangan Lirboyo.
Dari Pesantren Menjaga Negeri
Alumni Kiprah Lirboyo juga berkontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa. Di tengah tantangan sosial dan ideologi, mereka hadir menjadi penyejuk dan penjaga keharmonisan masyarakat, menyampaikan nilai-nilai kebangsaan melalui bahasa agama yang menekankan toleransi, persatuan, dan rasa nasionalisme.
Dari Kediri, jejak pengabdian itu terus terukir dan membuktikan bahwa peran besar untuk negeri bisa lahir dari bilik-bilik pesantren yang sederhana di mana tempat ilmu, adab, dan nilai kebangsaan ditempa.
Penulis adalah Ragil Arya Kusuma, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian