JP Radar Kediri - Menjelang memasuki bulan Ramadan 2026, umat Muslim sebaiknya mengecek kembali apakah masih memiliki kewajiban puasa yang belum ditunaikan dari Ramadan 2025 atau tahun-tahun sebelumnya.
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Oleh sebab itu, apabila seseorang meninggalkannya karena alasan tertentu, maka ia berkewajiban mengganti puasa tersebut sebelum datangnya Ramadan berikutnya.
Qadha berarti mengganti atau menunaikan kewajiban yang sempat tertunda. Pelaksanaan puasa qadha pada dasarnya sama seperti puasa Ramadan, perbedaannya hanya terletak pada niat yang dibaca.
Dalam artikel ini akan dibahas niat puasa qadha beserta tata cara pelaksanaannya, sebagaimana dikutip dari Baznas pada Kamis, (22/1).
Niat Puasa Qadha
“Nawaitu shauma ghodin ‘an qadaa’i fardhi syahri romadhona lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadhan lillahi ta'ala.”
Kewajiban mengqadha puasa Ramadan berlaku bagi orang yang pada dasarnya mampu berpuasa, namun terhalang oleh kondisi tertentu yang dibenarkan dalam syariat, seperti sakit, haid atau menstruasi, hamil dan menyusui, usia lanjut, melakukan perjalanan jauh (musafir), serta masa nifas.
Melaksanakan puasa qadha Ramadan hukumnya wajib. Rukun dan syaratnya pun sama seperti puasa Ramadan.
Puasa yang dikerjakan harus sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadan.
Dikutip dari Jawapos pada Kamis (22/1), apabila seseorang tidak berpuasa selama lima hari di bulan Ramadan, maka ia wajib mengganti puasa tersebut sebanyak lima hari pula.
Jika lupa jumlah pasti hari yang ditinggalkan, dianjurkan mengambil hitungan yang lebih banyak sebagai bentuk kehati-hatian.
Mengqadha puasa secara berurutan memang dianjurkan atau disunnahkan. Namun, apabila tidak memungkinkan, pelaksanaannya boleh disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Niat puasa qadha dapat dibaca pada malam hari atau saat hendak sahur.
Mengganti utang puasa Ramadan hukumnya wajib dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Jika sengaja ditunda tanpa alasan yang dibenarkan, maka hal tersebut dapat menimbulkan dosa.
Dalam ketentuan Islam juga dijelaskan bahwa puasa qadha tidak boleh dibatalkan, kecuali ada uzur yang dibenarkan secara syariat.
Apabila utang puasa belum ditunaikan hingga datang Ramadan berikutnya, mayoritas ulama berpendapat kewajiban qadha tetap berlaku dan harus segera dilaksanakan setelah bulan Ramadan berakhir.
Selain wajib mengqadha puasa, seseorang yang belum menunaikan utang puasa hingga datang Ramadan berikutnya juga dikenai kewajiban membayar denda yang disebut fidyah. Fidyah dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok dengan takaran tertentu.
Pembayaran fidyah dapat dilakukan kapan saja sebelum memasuki Ramadan selanjutnya. Terdapat ketentuan khusus dalam perhitungannya. Fidyah ditunaikan dengan memberikan makanan pokok kepada orang miskin atau fakir dhuafa.
Besaran fidyah umumnya ditetapkan sebanyak satu sa’ atau sekitar 3 kilogram bahan makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari, seperti beras, jagung, atau gandum.
Dianjurkan untuk memberikan bahan makanan dengan kualitas yang baik, sebagaimana yang biasa kita makan.
Fidyah juga wajib ditunaikan oleh mereka yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia, orang dengan sakit berat, ibu hamil dan menyusui (dalam kondisi tertentu), serta orang yang telah meninggal dunia namun masih memiliki utang puasa.
Lalu, apakah kamu masih memiliki utang puasa dari Ramadan tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya?
Menjelang datangnya bulan Ramadan, sebaiknya kewajiban tersebut diselesaikan terlebih dahulu agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lebih tenang.
Editor : Andhika Attar Anindita