Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Makna dan Sejarah Idul Adha: Pelajaran dari Nabi Ibrahim

Jauhar Yohanis • Selasa, 27 Mei 2025 | 21:58 WIB

Domba, syariat pertama untuk kurban
Domba, syariat pertama untuk kurban

Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam, yang juga sering disebut Hari Raya Qurban. Secara bahasa, kata Id berarti “kembali” atau “berulangnya nikmat,” sedangkan Adha berkaitan dengan penyembelihan hewan qurban. Jadi, Idul Adha bisa diartikan sebagai hari raya yang penuh dengan pengulangan nikmat dan ibadah qurban kepada Allah SWT.

Mari kita mengingat kembali sejarah penting di balik Idul Adha. Berdasarkan kajian  KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) berikut ini sejarah tentang kurban yang sekarang disyariatkan bagi umat Islam.

Ujian Nabi Ibrahim

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim AS pernah diuji oleh Allah SWT. Awalnya, ada malaikat yang datang kepadanya (dalam wujud manusia) dan meminta kambingnya sambil melantunkan tasbih. Karena indahnya bacaan itu, Nabi Ibrahim memberi kambing-kambingnya dengan ikhlas, bahkan berkata, “Demi Allah, kalau anak saya pun diminta, saya korbankan.”

Ucapan ini menjadi ujian nyata ketika Allah benar-benar memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Meski sebagai seorang ayah hatinya berat, Nabi Ibrahim tetap patuh pada perintah Allah. Namun, Allah hanya menguji keikhlasannya, dan akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing.

Sejak itulah, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah qurban sebagai simbol ketaatan, dengan hewan-hewan seperti kambing, sapi, atau unta.

Baca Juga: City Tour, Jemaah Haji Kabupaten Kediri Napaktilasi Perjalanan Hijrah Nabi

Nabi Ibrahim dan Hamba-Hamba Allah

Ada satu kisah menarik lagi. Diceritakan dalam beberapa referensi bahwa Nabi Ibrahim pernah naik ke alam malakut (alam langit) dan berbicara langsung dengan Allah. Di sana, Allah memberitahu bahwa banyak hamba-Nya yang durhaka, berzina, korupsi, dan bermaksiat. Nabi Ibrahim sempat mengusulkan: “Ya Allah, bunuh saja mereka!”

Namun ketika Allah memintanya menyembelih putranya sendiri, Nabi Ibrahim sempat keberatan dan berkata, “Ya Allah, ini anakku, buah hatiku…”

Allah pun mengingatkan: “Wahai Ibrahim, yang kamu usulkan untuk Aku bunuh itu juga hamba-hamba-Ku, ciptaan-Ku, yang Aku cintai. Kenapa saat soal anakmu kamu keberatan?” Dari situlah Nabi Ibrahim belajar menjadi lebih lembut dan penyayang kepada sesama manusia.

Baca Juga: Penjelasan Ahli Kitab Zaman Sekarang Menurut Ustaz Adi Hidayat, Apakah Boleh Dinikahi Umat Muslim?

Ajaran Lembut dalam Islam

Sejak saat itu, Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang penyayang. Bahkan Rasulullah SAW memuji kelembutan hatinya. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan bahwa umat Islam harus menjadi rahmatan lil alamin — rahmat bagi seluruh alam. Melihat kemungkaran atau keburukan bukan berarti kita langsung menghukum atau menghabisi, tetapi berkomitmen untuk memperbaiki dan membawa kebaikan.

Inilah sebabnya Islam disebut millata Ibrahim — mengikuti jalan Nabi Ibrahim. Bahkan ketika Nabi Muhammad menjalani Isra Mikraj, beliau tidak bertemu Nabi Nuh AS (padahal termasuk nabi ulul azmi) karena Nabi Nuh pernah berdoa buruk untuk kaumnya. Sementara Nabi Muhammad diperintahkan mengikuti metode dakwah Nabi Ibrahim: lembut, penuh kasih sayang, dan selalu berharap ampunan Allah bagi yang berdosa. (*)

Editor : Jauhar Yohanis
#domba #2025 #hari raya idul adha #Gus Baha #kurban