Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

MANDULNYA FUNGSI PARPOL 

rekian • Jumat, 23 Agustus 2024 | 17:15 WIB

 

 

Suko Susilo
Suko Susilo

Mungkin hanya sebagian orang yang tahu dan sebagian yang lain bahkan pengurusnya sendiri tidak tahu bahwa partai politik itu mengemban fungsi yang tak ringan. Sebagai pilar demokrasi sekaligus tulang punggung masyarakat seharusnyalah partai itu mampu sekaligus mau menjalankan fungsinya dengan baik. Selain fungsi partai politik yang sangat penting sebagaimana agregasi kepentingan dan ideologi, komunikasi, dan artikulasi politik, adalah juga pendidikan politik dan rekruitmen politik.

Kebanyakan partai politik sekarang ini memang belum atau bahkan tidak berfungsi secara optimal. Seharusnya, di usia negeri yang sudah 79 tahun ini partai politik bisa tumbuh dewasa. Secara sederhana kedewasaan partai politik itu diukur dari ukuran mampu sekaligus mau. Mampu menampilkan diri sebagaimana partai yang ideal serta memiliki kemauan menjalankan fungsinya secara optimal sebagai partai modern.

Optimalisasi fungsi partai ini harusnya  paralel dengan antusiasme berpartai di era reformasi yang sudah berjalan hampir 3 dekade ini. Tetapi yang kita rasakan justru dari tahun ke tahun fungsi partai politik semakin melemah. Kelima fungsi dasar partai politik semakin sulit menunjukkan tampilan fungsionalnya. Terdapat sejumlah sebab yang mudah ditemukan terkait dengan melemahnya fungsi partai tersebut. Terutama di aras lokal.

Partai politik didirikan bukan semata mata untuk pendidikan politik agar masyarakat semakin sadar hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Partai politik didirikan juga untuk rekruitmen kader yang potensial untuk diperjuangkan mengisi beberapa jabatan politik yang bersifat publik. Partai harus pula mendidik para kadernya yang mengisi jabatan publik untuk menyadari pentingnya akuntabilitas jabatan yang dipegangnya.

Selama ini sumber kepemimpinan lokal hingga nasional berasal dari masyarakat yang seleksi dan kaderisasinya beroperasi di institusi partai  politik. Beberapa memang ada yang berasal dari birokrasi dengan kendaraan rentalan dari partai politik. Biasanya pemimpin yang berasal dari birokrasi lebih memiliki kemampuan teknokratis dan manajerial. Tetapi kelemahannya ia tidak berakar dan kurang memiliki basis dukungan massa.

Sedangkan pemimpin yang berasal dari kader partai politik cenderung memiliki basis dukungan massa yang kuat. Massa pendukung seringkali bersifat personal dan emosional. Terlebih jika figur pemimpin diyakini oleh pendukungnya sebagai memiliki referent power, yakni sumberdaya pengaruh yang berasal dari perasaan suka dan kekaguman.

Belakangan tidak sekedar referent power sebagai kekuatan pengaruhnya, tetapi juga kecukupan sumberdaya ekonomi untuk memainkan reward powernya. Semakin kuat lagi daya pengaruhnya dalam mendulang dukungan jika ditambah dengan unsur primordialisme dan komunalisme. Tinggal menambah kecakapan manajerial kebijakan publik yang bisa saja didapat dari pendidikan kader partai serta mengaktifkan semua sumberdaya yang dimiliki niscaya kader partai itu berpeluang menjadi pemimpin politik yang berhasil.

Potensi sebagai pemimpin politik selama ini seringkali dipertontonkan kader di sejumlah sarana atau media. Masyarakat sering menyaksikan kader partai lantang teriak berbagai konsep bernegara di panggung kampanye berdasar paradigma partainya. Kader partai mondar-mandir mengedarkan pandangan politik yang dianggapnya mudah disetujui melalui beberapa podcast. Kata-katanya menggelegar menggetarkan gendang telinga mengkritisi keadaan dan memberi solusi yang dianggap mampu menyelesaikan masalah. Mengkritik kiri kanan sejumlah kebijakan serta beberapa peristiwa yang layak dikomentari. Bahkan, kadang garang tampil di program debat sejumlah televisi seolah mampu menjadi kader partai yang bisa diharap mewakili aspirasi rakyat pendukungnya. Bisa memperjuangkan yang dirasa menghimpit kehidupan massanya.

Tampilan itulah yang mestinya menjadi produk bekerjanya fungsi partai politik. Menghasilkan kader tangguh, penuh keberanian dan memiliki kecakapan sosial dan konseptual di area politik untuk diharap bisa memenangkan pertarungan berebut simpati demi keinginan menjadi pemimpin politik.

Saya membayangkan, jagoan partai politik yang akan diadu dalam pertarungan kontestasi pilkada itu layaknya Bang Jampang Jagoan Betawi di komik Ganes Th pada 1970 an. Sosok pria kekar berotot dan lincah bergerak memainkan pedang menghadapi antek Kompeni penuh kesan jantan bak ayam aduan yang tiap pagi bermandi kembang.

Dalam politik, belakangan ini ternyata ikon kejantanan ‘pria berotot dengan kumis melintang dada berbulu’ rontok oleh kegemulaian perempuan. Menjelang pilkada serentak tahun ini begitu mudah kita mendapati wajah perempuan menghias jalanan mengirim pesan kesiapannya menjadi pemimpin daerah.

Sepertinya, dengan sedikit mencermati pilkada di sejumlah daerah kejantanan imajinatif tumbang oleh perempuan muda yang dengan gagah berani berkata ‘aku ingin memimpin daerah ini’, ‘aku siap bertarung melawan lelaki’. Kejantanan tumbang dan muncullah perempuan jantan dengan penuh keberanian bertarung gagah di ring pilwali, pilbup dan pilgub sekalipun.

Kegagahan fisik, otak jenius, semuanya tidak lagi sahih sebagai simbol kejantanan dan kehebatan pria. Begitu juga pria hebat yang bisa menjadi teladan akhlak, lemah lembut membimbing anak istri sepenuh kasih sayang dan yang rendah hati mau belajar sampai tua. Pria jenis ini mungkin saja kini menjadi manusia membosankan yang membuat perempuan tega meninggalkannya karena dianggap hidup kurang berwarna.

Jika bayangan saya tentang jagoan sebagai hasil kalkulasi rasional fungsi rekruitmen politik tak muncul dalam pertarungan, maka patut dipertanyakan untuk apa fungsi itu disematkan pada partai politik ? Tak usahlah muluk-muluk mencantumkan fungsi itu jika memang partai politik tak memiliki kemampuan mencetak kader potensial yang bisa menang di ring pertarungan politik. Terbukti akhirnya hanya mengambil orang lain yang bukan kader untuk dipercaya bisa memenangkan pertarungan. Jika itu yang terjadi, maka mungkin saya tak akan terkejut ketika bahasan partai politik dikeluarkan dari literatur standar jalan demokrasi bernegara. (oleh Suko Susilo, Guru Besar Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri.) 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pilkada #komik #lirboyo #Negara #partai politik (parpol)