Mengulik Respon Prabowo soal Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG)

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 11:38 WIB
Presiden Prabowo Subianto (ANTARA FOTO/Syaiful Arif/agr/pri)
Presiden Prabowo Subianto (ANTARA FOTO/Syaiful Arif/agr/pri)

JP Radar Kediri – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kembali menjadi sorotan publik. Di tengah gelombang kasus keracunan yang ditemukan di sejumlah daerah, Presiden RI Prabowo Subianto buka suara sekaligus memaparkan data statistik di balik pelaksanaan program andalan tersebut pada Februari silam.

Berdasarkan laporan yang diterima Presiden, tercatat ada sekitar 28 ribu penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan—seperti sakit perut hingga indikasi keracunan—dari total 4,5 miliar porsi makanan yang telah didistribusikan secara nasional.

Secara matematis, Prabowo menyebut angka tersebut berada di kisaran 0,0006 persen. Dengan kata lain, tingkat keberhasilan distribusi program ini diklaim mencapai 99,994 persen.

"Saya dapat laporan sampai hari ini sudah kurang lebih 28 ribu penerima manfaat yang mengalami gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut dan sebagainya. 28 ribu dari 4,5 miliar, kalau tidak salah itu adalah 0,0006 persen. 0,0006 artinya 99,994 persen berhasil," ujar Prabowo dalam acara Peresmian 1.072 SPPG dan 18 Gudang Ketahanan Pangan di SPPG Palmerah Polres, Jakarta Barat, Jumat (13/2).

Baca Juga: Kepala BGN Mengaku Drop usai Kasus Keracunan MBG yang Bertubi-tubi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Meski demikian, kepala negara tidak menampik bahwa ruang perbaikan akan selalu ada. Ia menegaskan, tidak ada kerja manusia yang mencapai kesempurnaan mutlak, namun pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga standar kualitas pelayanan.

"Itu kalau statistik ya, itu kan dibulatkan ke atas, berarti apa? 99,994 persen itu berhasil. Di mana ada usaha manusia yang 100 persen? Ada, tapi tidak gampang dicapai," tambahnya.

Pemerintah juga berencana melakukan verifikasi data secara berkala guna menekan angka risiko sekecil mungkin. Bahkan, dari laporan yang ia terima, tingkat keamanan program ini diklaim kompetitif jika dibandingkan dengan standar di negara-negara Asia maupun Eropa.

Pemerintah Tegaskan Program MBG Tidak Akan Dihentikan

Di sisi lain, menguatnya kritik publik hingga aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah direspons tegas oleh istana. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memastikan bahwa program MBG tidak akan dihentikan karena merupakan mandat politik serta janji kampanye utama Presiden Prabowo dalam Pemilu 2024 untuk mempercepat penanganan stunting dan memperbaiki kualitas gizi nasional.

Baca Juga: 752 Siswa SMAN 1 Lasem Rembang dan 25 Guru Diduga Keracunan MBG, Ini Menunya

Qodari menggarisbawahi pentingnya membedakan kritik yang bersifat politis dan teknokratis. Dari sudut pandang politik, penghentian program yang telah disetujui oleh jutaan pemilih dinilai sebagai langkah yang keliru. Namun, pemerintah tetap membuka pintu seluas-luasnya untuk masukan teknis demi perbaikan di tingkat operasional.

“Bahwa yang namanya MBG nggak bisa Anda minta langsung berhenti. Prabowo dipilih karena program kerja yang dilaksanakan, nggak bisa diberhentikan,” tegas Qodari, Rabu (17/6).

“Salah besar kalau justru menuntut Pak Prabowo untuk menghentikan program itu karena itu janji kampanyenya. [...] Nah, kalau ketidaksetujuan Anda itu bersifat teknokratis, ya kita perbaiki mana yang kurang-kurang,” pungkasnya.

Editor : Shinta Nurma Ababil
kasus keracunan mbg Mbg Presiden Prabowo Makan Bergizi Gratis (MBG) keracunan mbg