KEDIRI, JP Radar Kediri-Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengunjungi Marsiah, 104, calon jemaah haji (CJH) asal Desa Bulu, Semen kemarin. Orang nomor satu di Pemkab Kediri itu meminta jemaah tertua se-Indonesia itu mendoakan Kabupaten Kediri saat di Tanah Suci nanti.
Tiba pukul 11.30, Dhito didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). “Jadi saya mengunjungi mbah Marsiah jemaah (haji, Red) tertua di Kabupaten Kediri yang usianya 104 tahun. Beliau mendaftar pada 2021 dan baru berangkat pada 2026 ini,” ujar Dhito.
Berbincang dengan perempuan yang usianya lebih dari satu abad itu, Dhito mengaku sangat terkesan karena lansia itu tidak hanya nyambung saat diajak berbicara. Melainkan kemampuan kognitifnya juga masih sangat baik.
Padahal, pria yang gemar blusukan itu mengaku sudah banyak mengunjungi lansia usia 80-90 tahun. Banyak di antaranya mereka yang mengalami gangguan atau menderita demensia. “Tapi ini (Mbah Marsiah) tidak. Pikirannya masih tajam sekali. Tadi saya juga titip doa ke mbah Marsiah,” tuturnya meminta Marsiah mendoakan Kabupaten Kediri agar adem ayem.
Dalam kesempatan kemarin Dhito juga memberikan kursi roda, uang saku, dan beberapa makan khas Kediri. Salah satunya sambel pecel.
Kursi roda sengaja diberikan untuk membantu mobilitasnya menjalani rangkaian ibadah haji. “Berangkat dengan anaknya yang kedua. Jadi dipastikan sudah ada yang mendampingi,” jelas Dhito sembari menyebut pemkab sudah meminta pendamping haji daerah untuk memberi pengawasan ekstra kepada lansia.
Terpisah, Marsiah mengaku senang dikunjungi oleh Dhito. Apalagi, kedatangannya sekaligus membawa kursi roda yang sangat dibutuhkannya. “Alhamdulillah tadi diberi kursi roda, uang, dan sambel pecel,” ujarnya tersenyum.
Baca Juga: Puluhan CJH Vaksin Polio dan Meningitis, Ini Pelaksanaan Maksimal Yang Wajib Kamu Ketahui!
Terkait persiapan keberangkatannya ke Tanah Suci, Marsiah mengaku sudah mulai menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Tanah Suci. Selebihnya, dia juga latihan fisik dengan rutin berjalan kaki di sekitar rumahnya.
Sementara itu, jika Marsiah masih dalam kondisi prima meski berusia lebih dari 100 tahun, ratusan CJH di Kabupaten Kediri diketahui masuk kategori risiko tinggi (risti). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri Ahmad Khotib melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Bambang Triyono Putro menyebut total ada 281 jemaah yang masuk kelompok risti.
Ratusan jemaah tersebut menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, hingga gangguan jantung. “Penyakitnya meliputi diabetes, hipertensi, dan jantung yang memang harus patuh konsumsi obat,” ujar Bambang.
Penyakit-penyakit tersebut menurutnya tergolong kronis. Sehingga membutuhkan kepatuhan dalam mengonsumsi obat secara rutin. Selain itu, kondisi fisik jemaah juga harus terus dipantau selama menjalani rangkaian ibadah.
Baca Juga: Ibadah Haji Tak Terdampak Konflik di Timur Tengah, 283 CJH Kota Kediri Dijadwalkan Berangkat Mei
“Kalau sakit kronis memang harus ada pendampingan obat agar kondisi tetap sehat. Tapi tidak semua ada pendamping, mereka harus patuh periksa ke dokter kloter dan konsumsi obat rutin,” jelasnya.
Pengawasan kesehatan, kata Bambang, akan dilakukan oleh tenaga medis di setiap kelompok terbang (kloter). Para CJH diminta aktif memeriksakan diri kepada dokter kloter jika mengalami keluhan kesehatan. “Kepatuhan terhadap jadwal minum obat juga menjadi kunci utama agar kondisi tidak memburuk selama menjalankan ibadah di Arab Saudi,” tandasnya sembari menyebut di setiap kloter ada satu dokter dan satu perawat.
Untuk diketahui, jemaah haji Kabupaten Kediri masuk ke dalam kloter 109-112. Untuk kloter 109-111 dijadwalkan berangkat ke embarkasi haji pada 19 Mei. Sedangkan kloter 112 pada 20 Mei nanti.
Editor : Andhika Attar Anindita