Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukan Bandara Juanda yang Jadi Ancaman Bandara Dhoho Kediri, Begini Penjelasannya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 1 April 2026 | 16:19 WIB
Para penumpang dan  penjemput melintas di terminal utama Bandara Internasional Dhoho Kediri.
Para penumpang dan penjemput melintas di terminal utama Bandara Internasional Dhoho Kediri.

 

KEDIRI, JP Radar Kediri– Banyak tantangan untuk market penerbangan di Bandara Internasional Dhoho Kediri. Aksesibilitas transportasi udara di wilayah Mataraman barat dinilai berpotensi menggerus pangsa pasar bandara yang baru beroperasi tersebut.

Terutama setelah terhubungnya layanan Kereta Api Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) hingga Madiun. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pengelola untuk segera melakukan penguatan strategi pasar.

Dimas Prakoso, pengamat sosial dan hubungan internasional menyebut kawasan Madiun dan sekitarnya berpotensi beralih ke Bandara Adi Soemarmo. Hal itu dipicu kemudahan akses melalui KA BIAS yang menghubungkan Bandara Adi Soemarmo dengan sejumlah daerah hingga Madiun.

Dengan kemudahan transportasi pulang-pergi tersebut, masyarakat di wilayah barat Mataraman dinilai lebih memilih Solo untuk penerbangan. “Adi Soemarmo sudah ekspansi sampai Madiun. Sehingga kawasan Madiun raya akan lari ke Solo kalau mau naik pesawat,” ujarnya.

Baca Juga: Bagaimana Peluang Kereta Bandara Internasional Dhoho Kediri? Begini Kata Dirjen Perkeretaapian

Menurut dosen di UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung itu, kondisi ini harus disikapi realistis oleh pengelola Bandara Dhoho. Ia menyarankan agar tidak terlalu memaksakan pasar di wilayah barat.

Melainkan fokus memperkuat basis di Mataraman timur seperti Kediri, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menjaga keberlangsungan market yang sudah ada.

Selain itu, tantangan lain juga datang dari munculnya layanan travel eksklusif antarkota. Beberapa brand besar dari Jawa Barat dan Jawa Tengah kini mulai merambah Jawa Timur.

Bahkan telah membuka trayek Juanda–Kediri. Seperti halnya Travel Cititrans yang mulai melakukan ekespansi rute Kediri-Juanda. Kondisi tersebut berpotensi menjadi pesaing serius bagi layanan penerbangan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Satu sisi, Ketua International Office UIN Sayyid Ali Rahmatulloh Tulungagung itu menilai strategi promosi Bandara Dhoho sudah berada di jalur yang tepat.

Optimalisasi media sosial hingga kolaborasi dengan media massa dinilai sebagai langkah progresif. Namun, dia mengingatkan agar promosi melalui media massa tetap diperkuat karena masih memiliki pengaruh besar di wilayah selatan Jawa Timur.

“Walau masyarakat sudah melek media, namun masyarakat Jawa Selatan itu masih susha membaca koran dan mendengarkan radio,” jelasnya. Dia menambahkan, menurutnya banyaknya promo hotel, wisata gratis jika menunjukkan boarding pass adalah langkah yang baik.

Bahkan, hal ini sangat jarang dilakukan oleh bandara lain. “Konsistensi pengelolaan dan pola kerja otoritas bandara perlu dijaga agar tetap kompetitif,” tandas Dimas. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#bandara dhoho kediri #UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung #bandara dhoho #penerbangan #bandara baru