Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Unik! Balai Desa Klanderan Plosoklaten Kediri Ini Memiliki Arsitektur Bersejarah

Diana Yunita Sari • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:03 WIB
Balai Desa Klanderan dengan arsitektur sejarah (Diana Yunita)
Balai Desa Klanderan dengan arsitektur sejarah (Diana Yunita)

JP Radar Kediri - Balai Desa Klanderan di Kecamatan Plosoklaten terlihat berbeda dibandingkan balai desa lain. Mayoritas balai desa di Kediri menonjolkan arsitektur modern atau pendapa.

Namun, di balai desa ini berdiri patung seorang tentara membaca buku. Patung tersebut adalah sebuah Monumen Tentara Republik Indonesia Pelajar (Mastrip).

Monumen ini bukan sekadar hiasan saja. Ia adalah penanda sejarah kelam sekaligus bersejarah di tahun 1949.

Di tanah inilah, seorang prajurit muda bernama Abdul Latip gugur bersimbah darah demi mempertahankan kemerdekaan.

Keberadaan patung tersebut merupakan bentuk penghormatan bagi Abdul Latip. Ia adalah anggota TRIP Jawa Timur yang terintegrasi dalam Brigade XVII/Detasemen II TNI.

“Prajurit pelajar ini meninggal di sini, tertembak saat pertempuran melawan Belanda. Untuk mengenang jasa beliau, dibangunlah monumen ini tepat di area balai desa,” ungkap Sekretaris Desa Klanderan Anis Eka Ningrum

Diketahui Abdul Latip merupakan bagian dari barisan pelajar yang angkat senjata pada operasi tahun 1947-1949.

Khususnya saat Agresi Militer Belanda. Semangat buku dan bedil yang diusung anak-anak muda saat itu terekam abadi dalam monumen yang dibangun melalui bantuan hibah pemerintah pusat dan Yayasan Mastrip pada tahun 1981/1982 tersebut.

Tak hanya monumennya yang bersejarah. Bangunan Balai Desa Klanderan sendiri masih mempertahankan struktur aslinya.

Yaitu sejak dibangun tahun 1982. Dengan luas sekitar 20 x 20 meter, balai desa ini dimanfaatkan menjadi berbagai kegiatan warga desa.

“Bangunan asli tetap kami pertahankan, hanya direhab atau diperbaiki saja tanpa mengubah bentuk dasarnya,” tambah Anis.

Selain menjadi pusat administrasi dan pertemuan warga, bangunan tersebut juga sering dipinjamkan untuk kegiatan belajar mengajar Taman Kanak-Kanak (TK).

Hingga kini, monumen Abdul Latip tetap berdiri kokoh di depan balai desa. Dalam beberapa tahun sekali monumen rutin dilakukan pengecatan yang dilakukan oleh asosiasi veteran dan pihak terkait lainnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#bersejarah #kabupaten kediri #Arsitektur Bersejarah #pejuang kemerdekaan #kediri #kecamatan plosoklaten #balai desa #mastrip #patung