Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
JP Radar Kediri– Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pesantren kerap dipersepsikan sebagai ruang tradisi yang berjalan lambat dan bertumpu pada masa lalu. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Di Pesantren Lirboyo, Kediri, tradisi keilmuan justru terus bergerak dinamis melalui sebuah forum intelektual bernama Bahtsul Masail .
Forum ini menjadi “dapur” keilmuan pesantren, tempat persoalan-persoalan masa kini dikaji secara mendalam dengan berlandaskan pada kitab kuning (turats). Bahtsul Masail merupakan salah satu tradisi intelektual paling prestisius di Pesantren Lirboyo.
Baca Juga: Magnet Lirboyo
Secara etimologis, Bahtsul Masail berasal dari bahasa Arab, bahts yang berarti pembahasan dan masail yang berarti masalah/persoalan. Dalam praktiknya, Bahtsul Masail adalah proses pembahasan mendalam terhadap suatu masalah dengan tujuan menemukan pandangan hukum Islam yang paling kuat dan relevan.
Salah satu ciri utama Bahtsul Masail adalah penggunaan kitab kuning sebagai referensi utama. Kitab-kitab ini berisi pembahasan fikih, ushul fikih, dan kaidah hukum Islam yang disusun oleh para ulama terdahulu. Meski ditulis berabad-abad yang lalu, kitab tersebut masih memiliki relevansi karena memuat metode berpikir dan prinsip-prinsip hukum yang fleksibel.
Dalam tradisi Bahtsul Masail , termasuk yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama, para ulama kerap menggunakan pendekatan analogi ketika menghadapi persoalan baru yang belum tertuang secara langsung dalam kitab. Pendekatan ini dikenal dalam tradisi fikih NU sebagai ilhāqul masā'il bi nadzā'irihā , yakni menyamakan persoalan baru dengan kasus-kasus serupa yang telah dibahas dalam kitab kuning.
Kitab kuning adalah istilah yang digunakan di pesantren untuk menyebut buku‑buku klasik Islam yang menjadi sumber utama pembelajaran. Disebut kitab kuning karena dulu banyak dicetak di atas kertas berwarna kuning, yang lebih murah dan mudah dibaca dalam kondisi pencahayaan sederhana
Bahtsul Masail juga berfungsi sebagai ruang latihan berpikir kritis bagi santri. Melalui forum ini, santri dibiasakan menyampaikan pendapat berdasarkan dalil, menghargai perbedaan, dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, hingga medis dibahas dalam forum ini.
Baca Juga: Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Tuan Rumah untuk Musyawarah Kubro NU
Ketajaman "Dapur" Lirboyo terlihat saat membedah isu modern dengan teks klasik. Pada kasus Kripto, santri menguji nilai hartanya ( māl ) terhadap risiko ekonomi ( gharar ), mencari legalitas melalui kesepakatan sosial ( 'urf ). Dalam dunia medis seperti transplantasi, mereka menggunakan prinsip Hifzhun Nafs (menjaga jiwa) untuk mendahulukan keselamatan nyawa di atas keutuhan jenazah.
Sementara untuk Hukum Negara, melalui Fiqh Siyasah , Lirboyo menegaskan bahwa kebijakan pemerintah wajib ditaati selama berorientasi pada kemaslahatan publik. Fiqh Siyasah adalah ilmu cabang fikih yang mengatur hubungan antara penguasa dan rakyat, termasuk kebijakan yang menyangkut kemaslahatan umum, keamanan, dan percakapan masyarakat.
Melalui mekanisme diskusi yang ketat dan argumentatif, Bahtsul Masail tidak hanya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga menghadirkan jawaban keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman.
Penulis adalah Khansa Dhiya Ramadhania, Mahasiswa Universitas Negeri Malang.