Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jejak Sejarah Pasar Desa Bangkok Kediri, dari Pos Kamling hingga Pusat Perdagangan

Diana Yunita Sari • Selasa, 20 Januari 2026 | 19:00 WIB
Pasar desa Bangkok, pusat perekonomian warga (Diana Yunita Sari)
Pasar desa Bangkok, pusat perekonomian warga (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Desa Bangkok memiliki pasar yang telah berdiri sejak zaman leluhur. Hingga kini, pasar tersebut menjadi pusat mata pencaharian bagi warga setempat. 

Terdapat sekitar 80 penjual yang menggantungkan hidupnya di Pasar Desa Bangkok. Pasar ini buka setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 08.00. Tidak ada data pasti kapan pasar tersebut berdiri.

“Namun menurut cerita dulu, di sana terdapat tangkis dan gardu (pos kamling) yang dijadikan tempat istirahat bagi pedagang yang hendak menuju Pasar Brenggolo,” ungkap Sekretaris Desa Bangkok Muqoddim Amrulloh.

Pedagang yang beristirahat ternyata tidak sedikit. Banyak dari mereka yang sekalian membuka lapak. Seperti menjual barang pecah-belah atau makanan.

Ternyata, barang dagangan tersebut diminati warga sekitar. Semakin lama semakin banyak pedagang lain yang ikut berjualan. Hingga akhirnya terbentuklah sebuah pasar.

Dulu, pasar ini dikenal dengan nama Pasar Gerdon karena keberadaan pos kamling di lokasi tersebut. Namanya kemudian beralih menjadi Pasar Krempyeng.

Lantaran jam operasionalnya singkat. Baru sekitar tahun 90-an, pasar ini mulai dikelola oleh pemerintah desa.

Lalu, dikenal sebagai Pasar Desa Bangkok. Renovasi pasar dalam skala besar dilakukan pada tahun 2017.

Pasar tersebut didesain dengan konsep area terbuka beratap tanpa pembatas ruko. Tujuannya, agar semua pedagang dapat dijangkau dengan mudah oleh pembeli.

“Meja-meja pedagang memang dibuat model los. Belajar dari pengalaman pasar lain yang menggunakan ruko di depan, pedagang yang di belakang sering kali tidak laku. Karena itu, kami buat konsep terbuka seperti sekarang,” terangnya.

Mayoritas pedagang merupakan warga asli Desa Bangkok. Barang yang dijual umumnya berupa hasil pertanian. Seperti sayur, buah, beras, dan bahan pokok lainnya.

Pedagang dikenakan biaya retribusi harian dan sewa lapak tahunan. Tarifnya bervariasi tergantung pada posisi lapak yang disewa.

Biaya retribusi berkisar antara Rp 2 ribu hingga Rp 4 ribu. Sedangkan biaya sewa lapak sekitar Rp100 ribu per tahun.

Muqoddim menyebutkan bahwa hasil dari retribusi dan sewa lapak ini menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Desa.

“Biaya sewa memang dibuat murah agar terjangkau oleh pedagang. Bahkan saat ini banyak yang menghubungi untuk menyewa, namun karena lahan terbatas, kami meminta mereka menunggu atau menggunakan lapak tidak permanen,” tandasnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #bangkok #kediri #Pasar Desa #sejarah #retribusi pasar #pasar tradisional #kecamatan gurah