KEDIRI, JP Radar Kediri-Gangguan tumbuh kembang stunting atau kekerdilan jadi perhatian utama Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Dalam Rembuk Stunting yang digelar oleh DP2KBP3A kemarin, orang nomor satu di Pemkab Kediri ini menargetkan kasus stunting bisa terus turun hingga 5 persen.
Mas Dhito mengatakan, penyebab utama stunting bukan hanya gizi buruk. Melainkan kadang warga kurang peduli terhadap kebersihan air. Karenanya, suami Eriani Annisa ini meminta camat untuk meng-update kondisi warga. Terutama mereka yang masuk kategori desil 1, desil 2, desil 3, dan desil 4.
“Warga desil satu sampai desil 4 ini adalah warga yang masuk kategori miskin. Kadang tidak memiliki jamban. Padahal kami menargetkan ODF (Open Defecation Free). Hal-hal seperti ini harus diperbaiki,” ungkap Mas Dhito.
Lebih jauh Mas Dhito menyebut, di Kabupaten Kediri angka stunting memang turun. Namun persentasenya masih kecil. Yakni, hanya 0,46 persen. “bagi saya kurang signifikan,” lanjut Mas Dhito sembari menyebut, setelah sempat di angka 21 persen, stunting turun ke 18 persen, 13 persen, dan terakhir menjadi 8 persen.
Meski angka stunting sudah satu digit, Mas Dhito meminta agar kasus kekerdilan terus ditekan.
“Idealnya sampai lima persen atau di bawahnya,” terang Mas Dhito meminta OPD, intansi vertikal, hingga pemerintah desa berkolaborasi menangani stunting. Dia berharap sebelum periode kedua kepemimpinannya selesai, angka stunting bisa nol persen.
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa yang juga menjadi ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Kediri mengaku bersyukur karena Kabupaten kediri mendapat penghargaan kategori terbaik dalam percepatan penurunan stunting tingkat kabupaten di Jawa Timur.
Menindaklanjuti instruksi Mas Dhito, Mbak Dewi menyebut penanganan stunting harus dilakukan secara terstruktur. Tim Percepatan Penurunan Stunting (PPS) bekerja dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Setiap daerah memiliki kondisi berbeda, misalnya terkait ketersediaan jamban atau kualitas air. Oleh karena itu, banyak OPD yang terlibat, dan kerja sama dilakukan secara kolaboratif,” tandasnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil