JP Radar Kediri-Progres program cek kesehatan gratis (CKG) di Kota Kediri tergolong lambat. Dari total target pemeriksaan 48 ribu siswa, hingga pertengahan September ini baru sekitar lima ribu siswa yang tercover.
Program prioritas nasional itu sedianya menyasar pelajar dari berbagai jenjang. Mulai SD, SMP, hingga SMA/sederajat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fajri Mubasyisir mengatakan, progres pelaksanaan CKG untuk anak sekolah hingga pertengahan September ini baru 11 persen atau sekitar lima ribu siswa.
“Karena CKG ini berbeda dengan pemeriksaan skrining sebelumnya. Skrining sebelumnya kan hanya siswa baru. Kalau ini sekarang semua siswa. Sehingga proyeksinya memang banyak,” ungkap Fajri.
Akibatnya, petugas di puskesmas harus melakukan pengaturan jadwal. Sebab, pelaksanaan CKG di sekolah tetap beriringan dengan berjalannya pelayanan kesehatan di masing-masing puskesmas. Padahal jumlah tenaga kesehatan sangat terbatas.
“Kami kan juga harus menyesuaikan dengan kegiatan yang banyak. CKG-nya juga tidak hanya di sekolahan, tetapi ada yang di puskesmas,” lanjut Fajri sembari menyebut puskesmas juga harus menyediakan layanan ke masyarakat seperti Posyandu, dan lainnya.
Untuk diketahui, sejauh ini hasil CKG pelajar rata-rata menunjukkan hasil yang normal. Di antaranya seperti tekanan darah, indeks masa tubuh (IMT), hingga kesehatan telinga hidung tenggorokan (THT), serta mata.
“Hanya memang ada beberapa (temuan) pelajar yang merokok dan ada yang gula darahnya meningkat,” terangnya sembari menyebut peningkatan gula darah saat CKG bisa disebabkan karena pemeriksaan dilakukan setelah siswa makan.
Ditanya tentang jumlah siswa yang merokok, menurut Fajri sedikitnya ada 30 pelajar yang merokok. Rata-rata mereka merupakan pelajar SMA/sederajat dan sebagian siswa SMP.
Sebelumnya, dinkes banyak mendapati gangguan kesehatan mata dan telinga pada pelajar. Kondisi serupa didapati pada 2024 lalu. Yakni, ada temuan ribuan pelajar sekolah dasar Kota Kediri yang mengalami gangguan refraksi atau penglihatan kabur.
Sedikitnya ada 2.272 pelajar SD yang menderita gangguan refraksi atau penglihatan kabur selama tahun 2024 lalu. Terkait hasil tahun ini yang tergolong normal, menurut Fajri hasil pemeriksaan belum bisa menggambarkan kondisi anak-anak. “Karena masih 11 persen ya. Jadi belum bisa tergambarkan secara umum kondisi rillnya,” beber Fajri.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, CKG yang menyasar pelajar sekolah masih terus bergulir di beberapa sekolah. Salah satunya di SDN Burengan 3 pada Selasa (16/9) lalu. Di sana, ada sekitar 160 siswa dari kelas 1 – 6 yang mengikuti pemeriksaan kesehatan dasar.
Di antaranya pemeriksaan mata, gigi dan mulut, tekanan darah, telinga, dan sebagainya. Anak-anak di sana pun nampak menuruti setiap tahapan pemeriksaan kesehatan. Beberapa siswa mengikuti pemeriksaan mata dengan E-Chart. Yakni, dengan mengidentifikasi arah hadap huruf ‘E’. Metode itu dilakukan oleh siswa slow learner yang kesulitan membaca abjad.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira