KABUPATEN, JP Radar Kediri–Meski sudah mendapat kepastian tentang jenis kelaminnya, Lik, 9, bocah berkelamin ganda asal Badas masih harus menempuh jalan panjang. Selain operasi, dia harus mengonsumsi obat seumur hidup untuk menekan hormonnya. Menyadari biaya yang mahal, keluarga meminta agar pemkab memberi bantuan.
Untuk diketahui, sebelumnya Lik sudah menjalani pemeriksaan imuno serologi terkait 17-OH progesterone di RSUD Dr Soetomo. Hasilnya menunjukkan angka 279,96. Selanjutnya, Lik juga menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat kromosomnya.
Setelah hasil dua pemeriksaan itu keluar, pada Rabu (3/9) lalu dilakukan pembacaan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Dari sana diketahui jika kromosom Lik dominan perempuan. Yakni kromosom 46 XX.
Sesuai keterangan dokter, hasil tersebut merupakan kariotipe normal untuk perempuan. Secara scientific pun Lik dinyatakan perempuan. "Alhamdulillah gendhuk (Lik) tetap perempuan," terang Zia, ibu Lik, bersyukur.
Lebih jauh Zia mengungkapkan, setelah hasil dibacakan di RSUD Dr Soetomo, Lik juga diperiksa beberapa kali. Seperti di poli endokrin atau poli yang menangani kelainan hormon.
Selanjutnya, dia juga kembali diperiksa di poli obgyn atau poli obstetri dan ginekologi, untuk diperiksa sistem reproduksinya. Setelah itu juga dilakukan pemeriksaan ultrasunografi (USG). "Katanya tinggal keputusan operasi," papar Zia sembari menyebut pihaknya masih menunggu hasil rapat para dokter.
Keluarga, lanjut Zia, mendukung penuh pelaksanaan operasi terhadap Lik. Hal tersebut sekaligus untuk mendukung keputusan anaknya. "Gendhuk juga ingin tetap jadi perempuan," paparnya.
Untuk diketahui, setelah Lik menjalani operasi, dia tetap harus meminum obat seumur hidup untuk menekan hormon. Menurut dokter, obat itu dibutuhkan untuk menekan sel hormon yang berlebih. “Untuk klitorisnya yang membesar, sarannya tetap operasi," tandasnya.
Dengan rencana tersebut, diakui Zia keluarganya dibayang-bayangi biaya operasi. Sebab, selama ini pekerjaannya hanya penjual es kelapa muda. Uang tersebut tidak cukup untuk biaya operasi.
"Uang pribadi jelas belum punya. Kerjaan (jual es) masih sepi, belum bisa untuk menabung. Dari kemarin kontrol ke-2 dan ke-3 ini semua biaya dikasih Abah Maskur (Anggota DPRD Kabupaten Kediri Masykur Lukman). Untuk biaya kendaraan, sangu jajan, dikasih Abah,” urai Zia sembari menyebut biaya pemeriksaan laboratorium juga diberi oleh Masykur Lukman.
Karenanya, dia berharap pemerintah bisa membantu biaya operasi. Dia juga meminta dukungan pemkab agar mengedukasi masyarakat di sekitar. “Agar jangan mengucilkan. Tidak pada gendhuk saja, tapi kalau ada kasus serupa," harapnya.
Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Kediri Masykur Lukman menyebut akan berkoordinasi dengan pemkab. Sehingga, nantinya kebutuhan pemeriksaan dan operasi Lik didukung penuh. "Sementara belum ada info lebih lanjut dari pemkab. Saya mau nemui pasien (Lik) dulu. Nanti saya koordinasi dengan dinsos dan dinkes untuk persiapan ke Surabaya (operasi)," tandasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira