Pemerhati sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, peristiwa penyergapan itu dilakukan di bawah komando Mayor Bismo. Bersama Raden Abdulrahim Pratalykrama dan barisan pemuda serta Residen Kediri, mereka menyerbu Markas Kempetai. Markas tersebut merupakan polisi militer rahasia Jepang yang saat itu disebar di seluruh penjuru wilayah Indonesia.
“Lokasinya sekarang menjadi ruko (rumah toko, Red) Brawijaya itu,” ujarnya.
Saat itu, situasi Kediri masih di bawah kekuasaan Jepang. Proses pelucutan untuk merebut kemerdekaan itu berlangsung alot. Apalagi Kempetai saat itu merupakan polisi rahasia Jepang yang sangat ditakuti, “Mayor Bismo mengambil inisiatif setelah penyambutan proklamasi maka yang pertama kali yang diserang itu adalah markas Kempeitai,” beber guru sejarah MAN 2 Kota Kediri itu.
Pelucutan senjata itupun berlangsung selama beberapa hari. Hari pertama pada 18 Agustus 1945. Karena belum membuahkan hasil, Mayor Bismo lalu berkonsolidasi dengan Residen Kediri Raden Abdulrahim Pratalykrama. Bismo meminta agar dilakukan pendekatan dengan cara bernegosiasi dengan pimpinan Kempetai Jepang di markas tersebut.
Negosiasi itu membuahkan hasil. Polisi militer rahasia Jepang akhirnya. “Hasil rampasan senjata itu kemudian semuanya diserahkan kepada pemuda. Dan di situ dikibarkan bendera Merah Putih,” sambungnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian