Meski prinsipnya memenuhi unsur gizi dari setiap komponen yang dihadirkan, namun praktiknya masih banyak siswa yang pilih-pilih mana yang mau dimakan. Seperti diakui Ananda Nayra Ramadhani, 17, salah satu pelajar di SMP Negeri 8 Kediri.
“Ada yang nggak suka sayur, itu dikasih ke temennya,” ujarnya.
Hari itu, dia dan teman-temannya menerima paket MBG dengan menu nasi, oseng sawi putih dan wortel, ayam goreng tepung, sepotong semangka, dan susu kotak rasa vanila.
Begitu beberapa teman kelasnya mengambil makanan dalam kotak berwarna biru muda itu dari ruang guru, siswa kelas XI itu langsung menuju depan kelas.
Sebelum mengambil jatah MBG, mereka lebih dulu membubuhkan tanda tangan di secarik kertas. Bukti bahwa sudah mendapatkan paket makan gratis itu.
“Biasanya waktu istirahat kedua. Sekitar jam 11 gitu sudah datang,” ungkapnya.
Begitu menerima paket MBG, Nayra dan teman-temannya langsung menyantapnya. Sebab, kotak tempat makan harus segera dikembalikan ke lobi ruang guru. Untuk selanjutnya diambil petugas dari dapur SPPG.
Lebih jauh dia mengungkapkan, di hari pertama siswa diinformasikan agar membawa kotak makan sendiri. Tujuannya agar makanan bisa dipindahkan ke tempat makan masing-masing.
“Lalu kotak makannya yang dari sana itu langsung dikembalikan. Tapi terus kata pihak panitianya boleh dimakan di sini, tapi harus cepat-cepat. Biar nggak numpuk waktunya,” bebernya. Pelajar berkerudung ini menyebutbutuhkan 30 menit bagi mereka menghabiskan makanan itu.
Nayra mengungkapkan, di hari pertama menerima MBG, dia antusias. Namun, tidak sedikit dari teman-temannya yang mengeluhkan satu-dua hal dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.
“Teman-teman banyak yang bilang kalau nasinya kebanyakan, tapi lauknya sedikit. Tapi di hari kedua sudah pas. Dan yang kemarin (hari ketiga, Red) enak banget. Kalau hari ini (hari keempat, Red) alhamdulillah dapat susu,” terangnya.
Selama empat hari pertama MBG berjalan di sekolahnya, menurut Nayra memang tidak setiap hari ada susu di menunya.
“Kemarin (hari ketiga, Red) nggak ada susu. Adanya buah yang lebih segar,” tandasnya sembari menyebut mereka mendapat buah anggur.
Yang pasti—lanjut Nayra—menu selalu berganti-ganti. Dia pun tak mempermasalahkan menu masakan dari makan gratis itu. Hanya saja beberapa anak merasa tidak cocok.
“Kami kan selera nasinya beda-beda. Ada yang suka nasi pera, ada yang suka nasi agak lembek. Nah, di hari kedua kalau nggak salah, itu nasinya agak pera. Pera banget. Tapi kalau hari ini Insya Allah sudah mantap,” pungkasnya
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira