KABUPATEN, JP Radar Kediri- Pemkab Kediri terus mengebut pembangunan Museum Sri Aji Joyoboyo. Juni nanti pagar depan museum akan mulai dibangun. Pemkab Kediri menyiapkan tiga alternatif desain untuk proyek yang terletak di Desa Menang, Pagu itu.
Plt Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Irwan Chandra Wahyu Purnama mengatakan, saat ini pihaknya tengah menggarap desain pagar. Menurutnya, ada tiga opsi desain yang bisa dipilih. “Selanjutnya akan diserahkan ke Mas Bup (Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana) untuk dipilih,” ungkap Irwan.
Seperti apa desain pagar museum? Irwan tidak membeber secara detail. Meski demikian, menurutnya desain akan dibuat selaras dengan bangunan utama. Namun, tidak meninggalkan nilai seni Sri Aji Joyoboyo.
“Untuk pagar rencananya bukan yang njlimet gitu. Yang penting aman dan pantes. Orang tahu kalau ini adalah museum,” lanjut pria yang secara definitif menjabat kepala dinas pekerjaan umum dan penataan ruang itu.
Pembuatan desain pagar menurut Irwan ditarget selesai pada Mei nanti. Setelah disepakati desain mana yang akan diambil, pada Juni atau paling lambat Julin anti akan dimulai pembangunannya.
Irwan memprediksi pembangunan pagar museum butuh waktu sekitar empat bulan. Sehingga, pada November nanti bisa selesai. “Tahun ini membangun pagar depan dengan pagu Rp 750 juta,” jelasnya.
Setelah membangun pagar, tahap selanjutnya mereka akan membangun interior museum. Terkait hal itu, Irwan mengaku masih akan mengundang stakeholder terkait. Seperti dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar) dan badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda).
Dua OPD tersebut akan diajak membahas detail desain yang akan diterapkan di museum. “Konsepnya maunya seperti apa? Apakah modern minimalis atau konsep Sri Aji Joyoboyo. Macem-macem lah (yang dibahas, Red),” urainya.
Pemkab, terang Irwan, juga akan mempertimbangkan biaya perawatan ke depan. Karenanya, mereka akan memilih desain yang membuat barang-barang bisa ditampilkan secara baik. Serta perawatan bangunannya mudah.
Jika desain terlalu njlimet dikhawatirkan biaya perawatannya tinggi. “Apalagi kalua (terbuat, Red) dari kayu-kayu,” tandasnya sembari menyebut pembahasan desain juga akan melibatkan para pegiat seni. (sad/ut)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira