Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Garasi UMKM di Kediri, Wadah Usaha Mikro yang Jalannya Tertatih-tatih

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 23 Maret 2025 | 04:22 WIB
Photo
Photo

Niat awal, dibangun sebagai fasilitas usaha mikro. Agar berkembang dalam produksi maupun pemasaran. Sayang, hampir semua Garasi UMKM harus berjuang setengah mati demi bisa hidup.

Kursi dan meja kayu berjajar. Tertata rapi, seperti tatanan di kafe-kafe. Di atasnya berhias lampu-lampu aneka bentuk. Menambah indah suasana malam.

Pengunjungnya belasan orang. Bercengkerama sambil menikmati jajanan yang dibeli di lapak-lapak UMKM. Memang, tempat ini ada di tengah-tengah lapak-lapak UMKM di Lapak Garasi UMKM Pare.

“(Pengunjungnya) segala usia. Sering satu keluarga datang untuk makan-makan. Biasanya juga jadi jujukan anak Kampung Inggris,” terang Koordinator Lapak Garasi UMKM Pare Rini Kustanti.

Saat itu, Jumat (21/3) hujan baru saja reda. Ketika hari beranjak malam, pengunjung yang datang terus bertambah. Daya  Tarik live music yang  ada menjadi salah satu penyebabnya. Mengundang beberapa pengunjung ikutan bernyanyi.

Garasi-kependekan Gerai Rumah Inkubasi-UMKM di Pare ini adalah satu dari empat  tempat sejenis di Kabupaten Kediri. Lainnya ada di Papar, Grogol, dan Ngadiluwih.

Namun, tempat terakhir yang disebut hanya diperuntukkan untuk pelatihan.

Dan, Garasi UMKM di Pare ini menjadi satu-satunya yang bisa ‘hidup’. Meskipun harus dilalui dengan perjuangan yang ‘berdarah-darah’.

“Dulu tidak seramai sekarang ini. Empat bulan tidak ada omzet sama sekali. Benar-benar sepi,” kenang Rini.

Tempat ini di-launching 2021 silam. Dengan total 20 pelaku UMKM yang membuka lapak berupa tenda-tenda jualan. Seiring waktu satu per satu gulung tikar. Tersisa hanya 12 pedagang saja.

Rini, dan sebelas pedagang lain berusaha bertahan. Meskipun harus dengan nyambi jualan online.

Mereka pun berpikir keras bagaimana agar  Garasi UMKM bisa tetap hidup. Salah satu caranya berpromosi melalui media sosial. Tapi hal ini pun tak bisa berdampak instan.

Lama-lama, pengunjung mulai berdatangan. Sedikit demi  sedikit. Menggunakan tempat ini sebagai lokasi nongkrong. Salah satunya adalah anak-anak muda  yang suka bermusik.

"Suatu saat ada yang ingin tampil. Akhirnya diiyakan. Mereka nyanyi di situ. Jadilah mulai ramai karena ada daya tariknya,” cerita ibu dua anak ini.

Setelah tiga bulan berselang, ketika Garasi Pare semakin ramai, Pemkab Kediri membangun lapak-lapak untuk 12 pedagang ini. Juga membekali dengan pelatihan.

"Awalnya dulu setiap pedagang hanya jual satu jenis makanan. Saat peralihan ini, dikasih rekomendasi menu apa saja yang sesuai dengan makanan yang sudah dijual itu, tidak boleh sama. Pelatihannya fokus pada menunya masing-masing. Kalau saya gado-gado, terus ditambah beberapa menu, ya pelatihannya fokus ke makanan itu, beda sama pedagang lain," urai Rini.

Setelah itu, sejak diresmikan lapak-lapak tersebut pada 2022, pengunjung membeludak. Hingga sekarang, meskipun tak sebanyak seperti saat launching tapi tetap bisa dibilang ramai.

Menurut Rini, ada beberapa hal yang membuat Garasi Pare tetap berjalan. Seperti lokasi yang memang strategis. Bertempat di dekat Taman Thamrin yang menjadi jujukan masyarakat.

Lokasinya juga bukan di jalur cepat, selain itu juga menjadi salah satu akses dari Jombang dan Malang.

"Walau agak jauh, tapi juga masih dekat sama Kampung Inggris," jelas perempuan yang sudah menggeluti UMKM sejak 2011.

Selain itu, yang membuat tempat ini tetap berkembang adalah kebersamaan para pedagangnya.

Seperti pengelolaan yang ditanggung bersama. Mulai dari kebersihan yang dilakukan sistem piket, setiap satu bulan sekali yang selalu melakukan pertemuan rapat untuk pengembangan

Dengan berkembangnya Garasi Pare, tidak hanya menaikkan ekonomi pedagang. Namun juga memberikan penghasilan bagi musisi-musisi jalanan yang tampil. Para pedagang iuran untuk fee pemusik yang tampil.

Beda dengan Pare, Nasib Garasi UMKM Grogol terbilang mengenaskan. Tempat ini hanya ramai setahunan. Berkonsep toko oleh-oleh, pada 2022 hingga 2023 masih memiliki omzet yang lumayan.

“Bisa menggaji dua orang admin, bisa beli kulkas showcase minuman,” jelas Rofingi, koordinator Garasi UMKM Grogol.

Penjualan mulai sepi ketika ada renovasi. Saat dinding Garasi diganti dengan kaca. Sebenarnya niatnya bagus. Agar produk bisa kelihatan dari luar. Sayangnya tidak ditunjang dengan display yang sesuai.

“Saya sudah ajukan rak gondola. Biar display bagus, dari luar biar kelihatan menarik. Tapi belum ada pengadan. Jadinya cuma ditaruh di meja sama rak kayu,” terangnya.

Berikutnya, tambah sepi lagi ketika dibangun lapak kuliner. Niatnya agar tidak hanya jajanan kemasan kering, namun juga ada kulinernya. Namun ternyata lapak yang dibuat itu penataannya tidak baik.

Seperti lapak yang terlalu besar, sehingga memakan tempat parkir dan menutup Garasi.

“Ada tujuh lapak, saya mintanya yang kecil. cukup sekitar 1 x 1 meter, sudah bisa untuk jualan, tapi yang datang yang besar ukuran 2x4 dan 2,5x3. Jadi memakan tempat. Tempat parkir jadi gak ada. Jadi tambah sepi,” terang laki-laki 43 tahun itu.

Pengunjung pun berangsur menurun. Kurang lebih sudah satu tahun Garasi itu tidak buka karena tidak ada pengunjung.

Akhirnya, jajanan yang ada di Garasi pun mayoritas kedaluwarsa karena tidak ada yang beli. Sementara untuk lapak kuliner, dari tujuh lapak yang ada, hanya tiga yang masih berjualan.

“Ke depan, inginnya kami, lapak ini dipindah saja, mungkin diberikan ke kecamatan-kecamatan. Jadi lahan parkir dan Garasinya bisa kelihatan. Inginnya juga minta Neon Box, agar yang lewat juga tahu. Harapannya bisa berjalan lagi, biar bisa jadi sarana untuk memperluas penjualan UMKM yang terlibat,” jelas Rofingi.

Walaupun Garasi yang tidak berjalan, karena sebelumnya juga beberapa kali dilakukan pelatihan, menurut Rofingi, setidaknya banyak UMKM yang sudah mendapatkan ilmu.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #pemkab kediri #pertumbuhan ekonomi #umkm kediri