JP Radar Kediri - Hingga kemarin, program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum berlangsung di Kediri Raya. Program yang bertujuan meningkatkan akses makanan bergizi bagi kelompok sasaran itu, rencananya, baru running besok, 13 Januari.
Tempatnya, di Kecamatan Kayenkidul dan Pare, dua lokasi yang masuk wilayah Kabupaten Kediri.
Di Kota Kediri? Belum ada jadwal pasti. Namun, satu dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) akan dibangun. Lokasinya di Jalan Basuki Rahmat.
Berada di tanah milik TNI Angkatan Darat. Sedangkan kapan waktunya, belum ada kepastian.
Salah satu sebab belum aktifnya program yang jadi andalan saat kampanye itu adalah soal anggaran. Sebab, MBG akan ditopang pendanaan sharing antara daerah dan Pusat.
Hingga saat ini belum ada aturan teknis yang pasti. Karena itu, Pemkot Kediri belum mengalokasikan anggaran.
“Sesuai Permendagri 15 Tahun 2024, nanti akan dilakukan perubahan perwali tentang penjabaran APBD,” dalih Kepala Badan Pendapatan, Pengelola Keuangan, dan Aset Daerah (BPPKAD) Kota Kediri Sugeng Wahyu Purba Kelana ketika dimintai komentar.
Lalu, berapa kebutuhan anggaran jika program ini berjalan serentak di Kota Kediri? Kemungkinan, nilainya bisa disebut fantastis. Mencapai hampir Rp 200 miliar.
Atau, hitungan sementara koran ini, mencapai Rp 171,7 miliar yang harus diolah jadi makan siang gratis bergizi.
Dari mana diperoleh hitungan itu? Ini merujuk pada paparan Badan Gizi Nasional. Yang membagi kelompok sasaran MBG menjadi dua, peserta didik dan non-peserta didik.
Peserta didik pun terdiri dari dua kelompok. Pendidikan dasar di bawah kendali Pemkot Kediri-melalui dinas pendidikan (disdik).
Kemudian pendidikan menengah yang diurusi oleh Cabang Dinas Pendidikan (Candindik) Jatim.
“Jumlah peserta didik di bawah naungan disdik berjumlah 51.415 siswa. Itu di antaranya seperti jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, hingga pusat kegiatan belajar masyarakat,” terang Kepala Disdik Kota Kediri Anang Kurniawan.
Bila sebanyak itu, maka, kebutuhan dananya bisa diperkirakan. Anggaplah makan siang gratis berlangsung selama lima hari aktif seminggu, kemudian dikalikan sebelas bulan, serta dikalikan Rp 10 ribu harga per porsinya, akan keluar angka Rp 113,1 miliar!
Itu masih yang kelompok pendidikan dasar. Untuk yang menengah, di bawah kendali Cabdindik Jatim wilayah Kediri, jumlah siswanya mencapai 27.091 orang.
Tersear di SMA dan SMK negeri serta swasta, juga SLB. Data ini diperoleh dari Kasi SMA/SMK Cabdindik Jatim wilayah Kediri Chairul Effendi.
Dengan pengali yang sama seperti untuk kelompok pendidikan dasar, hasil yang didapat juga sangat besar. Yaitu Rp 56,9 miliar! Bila ditotal maka ketemulah dari mana angka Rp 171,7 miliar itu.
Itu belum termasuk alokasi untuk lembaga madrasah dan pondok pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemanag) Kota Kediri.
Pun, sasaran non-peserta didik yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Jadi, kebutuhan anggarannya bisa lebih besar lagi.
“Cabang dinas sementara ini perannya hanya memberikan data jumlah peserta didik per lembaga. Masalah implementasinya itu dari SPPG,” aku Chairul ketika ditanya lebih jauh.
Demikian pula dengan pelaksanaan perdana yang akan berlangsung di dua kecamatan di Kabupaten Kediri pekan depan. Menurutnya, penentuan sasaran penerima juga di luar kewenangan pihaknya.
“Tapi yang pasti untuk kriteria penerima sementara kemarin infonya untuk siswa yang sudah masuk di dapodik (data pokok pendidikan, Red),” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah