Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menurut Kajian Aktivis Lingkungan, Sungai Brantas di Kota Kediri Sudah Tercemar

Ayu Ismawati • Senin, 29 Juli 2024 | 17:25 WIB
LAMPAUI BAKU MUTU: Chandra Iman Asrori, aktivis lingkungan Forum Kali Brantas menguji kualitas air Sungai Brantas.
LAMPAUI BAKU MUTU: Chandra Iman Asrori, aktivis lingkungan Forum Kali Brantas menguji kualitas air Sungai Brantas.

KEDIRI, JP Radar Kediri-Alarm bahaya pencemaran sungai juga terjadi di Sungai Brantas. Kualitas air sungai yang membelah Kota Kediri itu kian buruk. Jauh di atas baku mutu yang tertuang di Peraturan Pemerintah (PP) No. 22/2021 tentang Penyelenggara Perlindungan dan Pengelola Lingkungan Hidup.

Chandra Iman Asrori, aktivis lingkungan dari Forum Kali Brantas rutin menguji kualitas air Sungai Brantas dua kali dalam sebulan. Dia mengambil sampel air di sekitar Dermaga Brantas itu menunjukkan kadar zat pencemar yang relatif tinggi. “Yang paling signifikan itu kadar fosfat, selalu di atas baku mutu,” ujarnya.

Untuk baku mutu air sungai kelas 2, kadar fosfat maksimal adalah 0,2 miligram/liter. Sedangkan di Sungai Brantas, temuan kadar fosfatnya cenderung fluktuatif sejak 2022 hingga 2024. Yakni, berkisar 0,4 – 5,4 miligram/liter.

“Salah satu dampak fosfat yang tinggi bisa mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Termasuk memicu pertumbuhan tanaman air dan alga secara berlebihan,” bebernya terkait zat pencemar yang paling banyak dipicu oleh pencemaran dari industri dan limbah rumah tangga itu.

Perubahan ekosistem perairan Sungai Brantas menurutnya juga sudah dirasakan oleh Komunitas Nelayan Sekar Mulyo di Jombang. “Mereka sudah merasakan perbedaan dulu dan sekarang. Bedanya sekarang sulit dapat ikan. Seringnya dapat popok, botol, dan kresek ketika dijaring,” imbuhnya.

Ancaman terhadap kelestarian Sungai Brantas memang tidak hanya dari limbah cair saja. Melainkan juga sampah yang mencemari sungai terpanjang di Jatim itu.

Chandra menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian Ekspedisi Sungai Nusantara pada 2022 oleh Ecoton, Sungai Brantas ditetapkan sebagai sungai paling terkontaminasi mikroplastik. Sedikitnya ditemukan 636 partikel mikroplastik per 100 liter air. “Sungai Brantas termasuk yang tertinggi dari 68 sungai strategis nasional,” tandasnya.

Adapun kontaminasi mikroplastik memiliki dampak yang luas. Tidak hanya terhadap ekosistem perairan saja, melainkan juga bisa sampai ke manusia.

“Dampak yang paling mudah dilihat itu dari keragaman ikan. Seperti penelitian di Kali Mas Surabaya itu, ikan di Sungai Brantas 25 persen interseks atau berkelamin ganda. Pada akhirnya, ikan lokal bisa punah,” ujarnya.

Ancaman pencemaran di Sungai Brantas juga dibenarkan oleh akademisi Ilmu Ekologi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Tutut Indah Sulistiyowati. Menurutnya, pencemaran—salah satunya mikroplastik—di Sungai Brantas bisa berdampak ke manusia. Salah satunya lewat konsumsi ikan dari perairan yang tercemar.

“Dulu juga pernah sebagai bagian perkuliahan kami melakukan pengujian di sana. Tapi dengan metode yang lebih sederhana, dengan biotilik. Memang tidak sedetail penelitian Ekspedisi Sungai Nusantara, tapi dari situ saja bisa ketahuan kondisi sungai sekarang yang tercemar,” ujarnya sembari menyebut, biotilik itu juga bisa digunakan untuk membandingkan kondisi kesehatan sungai sekarang dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Kediri Imam Muttakin membenarkan tentang pencemaran di Sungai Brantas. Menurutnya, kualitas sungai itu tidak hanya dipantau oleh Pemkot Kediri saja. Melainkan juga dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Perum Jasa Tirta.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim Nomor 61 Tahun 2010 tentang penetapan kelas air pada air sungai, Sungai Brantas ditetapkan sebagai kelas 2.

“Dari hasil pengecekan-pengecekan, kualitas air (Sungai Brantas, Red) tidak sesuai baku mutu air sungai kelas 2,” ujarnya.

Lebih jauh Imam menyebutkan, saat ini juga sedang dilakukan review penentuan kelas air Sungai Brantas oleh DLH Provinsi Jatim. Bekerja sama dengan lembaga dari Belanda, TU Delft University. Salah satu tujuannya, mengkaji kualitas air Sungai Brantas yang terbaru.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#lingkungan #tercemar #sungai brantas #sungai tercemar #kota kediri