KEDIRI, JP Radar Kediri - Ada yang menarik dari ritual Manusuk Sima dalam memperingati Hari Jadi Ke-1.145 Kota Kediri kemarin.
Ritual yang memperingati lahirnya Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak itu diwarnai anak-anak muda.
Para generasi Z itu memimpin jalannya ritual. Mulai dari pengiring karawitan, penari, hingga pemandu upacara.
Salah satunya Hendra Dwi Saputra yang kemarin berperan sebagai pambiwara atau pemandu acara. Pria kelahiran 2001 itu pertama kali menjadi pambiwara dalam ritual tersebut.
Narasi rangkaian upacara itu dia sampaikan dalam dua bahasa. Yakni, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia.
“Kebetulan untuk paraga-nya tetap sama seperti tahun lalu dari Sanggar Budaya Nusantara. Cuma MC-nya yang berbeda,” ujar Hendra.
Waktu seminggu dia pakai untuk mempersiapkan diri. Termasuk mempelajari susunan rangkaian acara Manusuk Sima.
“Saya baru pertama kali ini. Menggantikan senior saya. Dari kecil saya juga sudah suka dengan budaya Jawa,” imbuh mahasiswa Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu.
Menurutnya, seluruh pengisi acara itu merupakan anak-anak muda dengan rentang usia 17 – 22 tahun. Lewat gelaran acara seperti ini, dia berharap bisa semakin mengembangkan kebudayaan di Kota Kediri.
“Untuk anak muda juga jangan malu-malu melestarikan budaya,” tandasnya.
Penjabat (Pj) Wali Kota Kediri Zanariah pun mengapresiasi anak-anak muda tersebut. Menurutnya, itu juga bagian dari proses regenerasi dan upaya Pemkot Kediri mewadahi potensi anak muda.
“Kami regenerasi. Dalangnya pun anak-anak muda. Dan mereka berterima kasih karena Kota Kediri mau memberi ruang mereka untuk berekspresi. Semoga yang lain juga seperti itu,” ujarnya.
Selain itu, kemarin juga merupakan kali pertama Zanariah mengikuti upacara Manusuk Sima.
“Kalau bahasanya yang tidak saya mengerti, hanya ngangguk-ngangguk sambil senyum saja. Tapi ada translate-nya di buku yang dibagikan,” sambung perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan itu.
Zanariah menambahkan, tahun ini merupakan tahun kedua upacara Manusuk Sima digelar di halaman Balai Kota Kediri. Sebelum itu, upacara serupa digelar di kawasan Taman Tirtayasa. Atau, lokasi Desa Kwak sebagaimana tertera dalam Prasasti Kwak.
“Tadinya kami mau ke tempat yang aslinya. Tapi kondisinya lebih nyaman di sini untuk jualan. Jadi tidak mengganggu,” sambungnya mengisyaratkan, perayaan hari jadi itu juga diramaikan dengan puluhan stan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Untuk diketahui, Manusuk Sima merupakan ritual tahunan yang digelar dalam memperingati hari jadi Kota Kediri.
Penetapan itu berdasarkan Prasasti Kwak tahun 801 Saka. Jika diubah ke tarikh masehi, pertanggalan dalam prasasti tersebut merujuk pada Senin Legi, 27 Juli 879 Masehi.
Pada saat itu, Sri Maharaja Rake Kayuwangi sebagai raja Mataram Kuno
memberikan hadiah kepada Huka Pucatura sebagai pemangku daerah pada saat itu. Anugerah tanah sima yang merupakan tanah pardikan atau tanah yang bebas pajak negara itu diberikan kepada Wanua (Desa) Kwak.
Berdasarkan penelitian, termasuk analisis toponomi, tanah sima di Wanua Kwak itu merujuk pada Ngadisimo, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah