KEDIRI, JP Radar Kediri — Cuaca panas di Arab Saudi saat puncak ritual haji, membuat kesehatan jemaah Kediri Raya tak lagi prima. Sejumlah jemaah lanjut usia (lansia) harus digantikan badal saat lempar jumrah karena kondisinya tak memungkinkan. Ada pula yang pingsan saat jamarat karena kelelahan.
Petugas Haji Daerah (PHD) Kota Kediri dr N. Hendra Wijaya mengatakan, hingga kemarin (17/6) sore, jemaah sudah menyelesaikan jamarat pertama. “Kami berangkat bakda Ashar (16/6), perjalanan PP (pulang pergi, Red) sekitar 2,5 sampai 3 jam kami berkelompok,” ujar Hendra.
Karena jarak tempuh yang jauh, menurutnya jemaah risiko tinggi (risti)—khususnya lansia—diimbau tidak memaksakan diri. Oleh sebab itu, ada sekitar 5-10 jemaah lansia diwakilkan atau digantikan oleh badal di tahapan tersebut.
Di luar jemaah yang mewakilkan jamarat kepada badal, menurut Hendra ada dua jemaah lansia yang kondisi kesehatannya menurun. Satu di antaranya pingsan setelah lempar jumrah.
“Dari awal memang disampaikan untuk tidak memaksakan diri bagi yang tidak mampu. Tapi namanya orang kepingin, tetap berangkat. Akhirnya dalam perjalanan pulang beliau kelelahan,” lanjut Hendra.
Karena usia yang sudah lanjut, kedua jemaah ini juga sempat mengalami heatstroke atau sengatan panas. Hendra mengatakan, sengatan panas cenderung melanda jemaah lansia. Salah satu penyebabnya karena mereka sering tidak mau makan. “Kami berikan pemberian nutrisi lewat infus. Ketika sudah diinfus, sehari enak, dicopot lagi,” terangnya.
Lebih jauh Hendra menuturkan, dari rombongan jemaah Kota Kediri juga terdapat dua jemaah yang menderita demensia. Sehingga, sering kali lupa dan harus terus didampingi jemaah lainnya. Karena kondisi itu, jemaah diimbau untuk tetap berada di tenda saat lempar jumrah.
“Sampai hari ini (17/6) beliau berdua juga masih dalam kondisi yang kurang baik. Dan beberapa kali karena kebiasaan makan bubur di Kediri, (di sini sulit makan, Red) jadi kondisi kesehatannya kurang baik,” terangnya sembari menyebut jemaah lainnya relatif dalam kondisi yang baik.
Hendra menegaskan, tahun ini ada penyesuaian waktu ibadah jamarat untuk jemaah. Pelaksanaannya pun tidak semudah tahun-tahun sebelumnya. “Ini tadi pagi (kemarin, Red) kami mau berangkat nggak boleh karena pagi bukan waktunya lempar jumrah jemaah Indonesia. Kami diberikan waktu sore atau malam,” terangnya.
Sementara itu, Bisri Mustofa, salah satu jemaah asal Kelurahan/Kecamatan Pesantren mengatakan, kemarin merupakan hari kedua jemaah bermalam di Mina. Senin (17/6) malam Waktu Arab Saudi (WAS), jemaah akan kembali melangsungkan jamarat di Mina. “Nanti malam (tadi malam, Red) lempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqobah,” tandasnya.
Untuk diketahui, tak hanya jemaah lansia Kota Kediri saja yang saat jamarat diwakilkan. Hal serupa juga dialami jemaah Kabupaten Kediri. Kepala Kantor Kementerian Agama (kemenag) Kabupaten Kediri Achmad Faiz menyebut, kondisi cuaca dan suhu di Arab Saudi mencapai 43 derajat celsius. “Pagi ini (kemarin) terpantau 34 derajat. Kalau biasanya kisaran 40 sampai dengan 43 derajat Celsius,” terang Faiz.
Akibat kondisi panas itu, menurut Faiz banyak jemaah yang mengalami batuk dan pilek. Ada pula yang demam ringan. Selebihnya, kondisi jemaah sehat. “Tidak ada yang sakit parah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah