KEDIRI, JP Radar Kediri - Ruang kerja pemimpin tertinggi Lapas Kelas IIA Kediri itu tak berubah. Masih sama persis seperti saat Muhammad Hanafi, pejabat lama, memimpin. Meja utama masih di ujung selatan. Lurus dengan pintu masuk. Lalu, di sisi barat dan timur, ada sofa dan kursi untuk tamu.
Meja kerja utama, yang seharusnya digunakan pejabat pengganti, terlihat sangat rapi. Tak ada tas, berkas, ataupun benda lain. Posisi kursi itu seperti tak pernah bergeser. Ternyata, memang seperti itulah kenyataannya.
"Semenjak saya di sini saya belum duduk di kursi itu. Saya lebih memilih di situ," kata Budi Ruswanto, sembari menunjuk kursi dan meja tamu yang terbuat dari kayu di sisi barat ruangan.
Ada alasan khusus yang membuat dirinya sebagai pelaksana tugas (plt) Kepala Lapas Kelas IIA Kediri belum menggunakan meja kerja itu. Baginya, ada tanggung jawab besar ketika duduk di situ. Oleh karenanya, dia mengaku masih melakukan penyesuaian. Ketika sudah merasa siap, barulah dia memboyong peralatan dan perlengkapan kerjanya di meja itu.
Meski begitu, bukan berarti dia tak siap melakukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tertinggi di lapas. Usai pelantikannya, dia langsung menemui para pegawai lapas serta warga binaan pemasyarakatan (WBP).
"Untuk berkoordinasi menyamakan persepsi, menyatukan visi dan misi. Juga melakukan sosialisasi ke WBP, penguatan agar mematuhi tata tertib yang berlaku di dalam lapas," jelas pria yang resmi dilantik pada Kamis (1/2) lalu.
Bagi Budi, penunjukannya sebagai pengganti Hanafi menjadi sebuah kepercayaan yang luar biasa. Meski awalnya sempat kaget mendapat mandat tersebut. Terlebih lagi, dirinya belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di kota yang juga dikenal sebagai Bumi Panjalu ini.
"Saya pertama bertugas ke sini itu ya pertama kali saya ke Kediri. Saya tidak memiliki bayangan Kediri itu seperti apa," kata pria kelahiran Bandung, Jawa Barat itu.
Sebelum bertugas di Kediri, Budi adalah kepala Bidang Pembinaan Narapidana Lapas Kelas I Madiun. Sebelumnya lagi dia bertugas sebagai Kalapas Kelas 3 Rangkasbitung di Lebakbanten.
Saat kecil, Budi tidak pernah membayangkan menjadi pegawai lapas. Satu pekerjaan yang digeluti oleh sang ayah. Dulu, dia hanya berkeinginan mendapat pekerjaan yang layak seperti orang pada umumnya. Seperti pegawai negeri sipil (PNS), tentara, atau anggota polisi.
"Dulu, kalau ditanya mau jadi apa saya jawabnya ingin jadi insinyur. Meskipun gatau insinyur itu apa," kenangnya.
Jauh sebelum menjadi pegawai lapas, dia pernah membuka usaha produksi sepatu dan sandal. Keahliannya itu didapat saat sekolah. Dia juga pernah mencicipi pekerjaan sebagai sales garam. Selama setahun dia berkeliling ke daerah di Jawa Barat, menjajakan garam dengan mobil boks.
Masih tak puas, dia mencoba mendaftar menjadi anggota Polri. Sayangnya, dia gagal saat penentuan tahap akhir (pantukhir).
"Tahun 2001 saya daftar seleksi di Kemenkumham. Kemudian 2002 saya diterima," ucap pria 44 tahun ini menjelaskan proses awal dia menjadi pegawai lapas.
Ketika itu, dia tidak pernah menyangka akan bekerja seperti sang ayah. Meskipun itu jadi menguntungkan. Dia lebih tahu seperti apa pekerjaannya itu nanti.
Sebagai pegawai lapas, ada hal yang selalu tertanam dalam benak seorang Budi. Bapak tiga anak itu mengatakan tak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalam lapas.
"Orang yang di dalam lapas itu sedang tersesat. Mereka mengalami hal yang dalam tanda kutip hilang kemerdekaan. Tugas saya dan pegawai lapas di sini jangan sampai menambah penderitaan mereka (ikut menghilangkan kemerdekaan, Red). Hak dasar mereka sebagai manusia tetap harus diberikan," jlentrehnya.
Sebagai Plt Kalapas Kelas II A Kediri, Budi ingin WBP tetap bisa menghasilkan karya. Dirinya ingin mereka yang di dalam bisa menjalankan keterampilannya seperti melukis, menyanyi, menulis, dan sebagainya. Kemudian dia juga akan memperbaiki layanan pengunjung. Mengingat lokasi lapas yang mepet dengan jalan raya. Terakhir, dia juga akan melanjutkan program dari kepemimpinan Hanafi.
"Tentunya program yang bagus tetap kami jalankan serta kami tingkatkan kinerjanya," tandasnya sembari menyebut pihaknya akan terus berinovasi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah