Acara yang berlangsung di gedung Bagawantha Bhari itu dimulai sekitar pukul 07.00. Di sana diperagakan beberapa tahapan pemilu. Mulai pemungutan suara, penghitungan suara, hingga perekapan menggunakan aplikasi Sirekap.
Simulasi juga melibatkan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan pemilih asli. Mereka berasal dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) 14 Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem. “Kami diundang untuk simulasi pencoblosan,” kata Adi Setyawan, salah satu pemilih yang ditemui koran ini kemarin.
Terkait proses pemungutan suara, menurut Adi relatif berjalan lancar. Tidak jauh berbeda dengan pemilu lima tahun silam. Meski demikian, menurutnya kertas suara dalam pemilu tahun ini terlalu besar. Sehingga, proses membuka dan melipat surat kembali membutuhkan waktu yang lama. “Lebih lama daripada proses pencoblosan itu sendiri,” lanjutnya terkait coblosan yang surat suara dibuat kosongan itu. Kemudian, nama parpol diganti dengan buah-buahan.
Adi berharap, di pemilu mendatang surat suara dapat dibuat lebih ringkas. Sehingga, proses coblosan di bilik suara bisa lebih efisien. Waktu yang dihabiskan juga bisa lebih cepat.
“Membuka kertasnya saja sudah sangat repot. Apalagi ngelipet kembali,” keluhnya.
Terpisah, Komisioner Divisi Teknik Penyelenggaraan KPU Kabupaten Kediri Anwar Anshori mengatakan, simulasi kemarin dibuat tak ubahnya pemungutan suara yang sesungguhnya. “Kami ingin memberi contoh secara real karena tidak efisien jika hanya teori saja,” ujarnya.
Dalam prosesnya, menurut Anwar pihaknya juga melakukan penghitungan suara hingga proses perekapan menggunakan apliasi Sirekap. Di simulasi kemarin juga dicontohkan beberapa problem pemilu dan cara mengatasinya. Misalnya, jika ada surat suara rusak, jumlah tidak pas, hingga surat suara masuk ke bilik yang salah.
Sementara itu, jika KPU Kabupaten Kediri melakukan simulasi pemilu, kemarin KPU Kota Kediri fokus menyelesaikan persiapan logistik. Mulai setting, packing, hingga checking seluruh kebutuhan logistik untuk coblosan.
Dibantu panitia pemungutan suara (PPS) masing-masing kelurahan, proses setting, packing, dan checking logistik diproyeksikan bisa tadi malam (31/1). Sekretaris KPU Kota Kediri Fany Wijayanto mengatakan, pihaknya membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk menyiapkan distribusi logistik. Hingga kemarin, menurutnya progresnya sudah mencapai lebih dari separo. “Ini prosesnya memasukkan logistik ke kotak suara. Contohnya ada surat suara, formulir, plano, dan lain sebagainya,” terang Fany.
Proses packing dilakukan langsung oleh petugas PPS. Mereka sekaligus diminta mengecek alokasi logistik di tiap TPS lingkungannya. Setelah semua logistik sesuai dengan checklist dan lengkap, kotak akan langsung disegel.
Berbeda dengan pemilu sebelumnya, tahun ini tiap kotak suara dilengkapi dengan barcode yang dapat dipindai. Melalui barcode itu, distribusi logistik dapat langsung terintegrasi dengan aplikasi berbasis website Sistem Informasi Logistik (Silog). “Nanti waktu pengiriman kita ada berita acaranya,” tandasnya sembari menyebut, semua persiapan distribusi logistik ditargetkan sudah clear mulai hari ini (1/2).
Kapan distribusi logistik dilakukan? Menurut Fany pendistribusian baru dilakukan sehari jelang pemungutan suara. Yakni, pada 13 Februari 2024. “Kami memakai jasa PT POS untuk mendistribusikan dari gudang KPU ke PPS. Skenario logistik kami untuk Kota Kediri, dari gudang KPU akan diteruskan ke PPS. Dari PPS baru akan didistribusikan ke TPS,” urainya terkait distribusi logistik 856 TPS di Kota Kediri itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah