Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Banyak Juru Parkir di Kota Kediri Ogah Pakai Kalung QRIS, Ini Alasannya

Emilia Susanti • Kamis, 18 Januari 2024 | 17:15 WIB

 

Photo
Photo
KEDIRI, JP Radar Kediri–Pemberlakuan pembayaran parkir non-tunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) belum bisa maksimal. Bukan saja karena pemahaman masyarakat yang minim. Melainkan, para juru parkir (jukir) juga mulai enggan memakai kalung QRIS.

Pantauan koran ini Selasa (16/1) sore lalu, sebagian jukir sudah tidak lagi memakai kalung QRIS yang bisa dipindai oleh masyarakat yang parkir. Dari beberapa ruas jalan di Kota Kediri, banyak yang enggan memakai kartu tersebut.

Misalnya, dari sembilan jukir di Jl Dhoho, lima di antaranya sudah tidak lagi berkalung QRIS. Kondisi yang hampir sama juga terlihat di Jl Pattimura. Dari sembilan jukir di sana, enam orang di antaranya tak lagi memakai kalung QRIS. Kemudian, di Jl HOS Cokroaminoto, dari lima jukir, dua orang di antaranya juga tak memakai kalung QRIS.

Heri Gunawan, 50, salah satu jukir di Jl Pattimura yang memakai kalung QRIS mengaku tetap memakai alat pindai itu karena mendapat perintah dari dinas perhubungan. “Sudah ada dua orang yang membayar pakai QRIS,” aku Heri terkait kebijakan yang diterapkan sejak 1 Januari lalu itu.

Dua orang yang bersedia membayar pakai QRIS menurut Heri berasal dari latar belakang yang berbeda. Salah satunya adalah pekerja kantoran. Meski mendukung sistem pembayaran non-tunai, Heri menyebut cara pembayaran baru ini bisa menggerus pendapatannya. Sebab, prosesnya dinilai ribet.

“Orang kan masih harus memasukkan ini itu, orang lain yang parkir keburu pergi,” keluhnya.

Terkait beberapa jukir yang enggan memakai kalung QRIS, menurut Heri kebanyakan menyimpannya di tas. Alasannya, saat hujan barcode di kartu rawan basah dan bisa luntur. “Terus ini (wadah plastik tempat barcode QRIS, red) juga udah rusak (bagian pengaitnya robek, red). Jadi dari pada jatuh sama teman-teman disimpan,” katanya.

Terpisah, Aprilia Suwandini, 33, salah satu warga yang memarkir motor di Jl Pattimura mengaku belum mengakses pembayaran non-tunai tersebut. Alasannya, dia tidak tahu jika pembayaran parkir bisa memakai QRIS. “Saya justru baru tahu setelah sampean kasih tahu ini,” tuturnya.

Menurut Aprilia, pembayaran parkir memakai QRIS ini sangat bagus. Selain mudah, masyarakat juga bisa mengerti tarif parkir yang sebenarnya. “Sebenarnya (yang masuk kas daerah, Red) berapa tidak tahu. Motor kan selama ini bayar Rp 2 ribu,” urainya. 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#jukir #jalan dhoho #kediri #qris #pembayaran instan