Di salah satu dusun di Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, ada belasan perajin perlengkapan dapur yang terbuat dari tanah liat. Kerajinan itu biasa disebut gerabah. Dan merupakan mata pencaharian banyak warga di Dusun Bedug, nama dusun yang punya 12 keluarga perajin gerabah.
Salah satunya adalah Sutaji. Pria 57 tahun ini menggeluti usaha gerabah sejak 33 tahun lalu. “Mulai membuat gerabah pada 1990,” kenangnya.
Sutaji meneruskan usaha ini dari keluarganya. Awalnya hanya sekadar membantu. Sebelum akhirnya menekuni dan dijadikan mata pencaharian utama.
Di tangan Sutaji, berbagai jenis gerabah muncul. Anglo besar maupun kecil, kendil, hingga gentong. Tak hanya memproduksi, dia juga memasarkan sendiri. “Pemasarannya hingga luar kota,” terangnya. Saat itu Sutaji selesai mengirim 150 gerabah berbagai ukuran.
Menurutnya, tren pasar kali ini adalah gerabah ukuran besar. Seperti gentong dan lainnya. Peminatnya mengalahkan gerabah ukuran kecil seperti vas bunga.
Selain memproduksi sendiri lelaki ini juga jadi pengepul gerabah tetangganya. Khususnya yang masih mentah. Sebab, hanya dia yang saat ini memiliki tungku pembakaran.
“Agar benar-benar kering gerabah butuh penjemuran selama sebulan,” terang bapak dengan tiga anak ini.
Pria kelahiran 1966 ini menyebut, jika tidak benar-benar kering gerabah akan rusak saat proses pembakaran. Yaitu akan mudah retak. Proses pembakaran ini memerlukan waktu selama satu hari. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu sengon.
Editor : Anwar Bahar Basalamah