KEDIRI, JP Radar Kediri-Target realisasi Tol Kediri-Kertosono tahun ini dipastikan meleset. Proyek fisik belum bisa dilakukan hingga akhir tahun ini karena tanah yang sudah dibebaskan sangat minim. Hingga pertengahan November ini, persentasenya kurang dari 10 persen.
Kepastian belum dimulainya pembangunanTol Kediri-Kertosono tahun ini diungkapkan oleh General Manager Teknik dan Operasi PT Jasa Marga Ngawi Kertosono Kediri (JNKK) Eko Budi Siswandi. Melihat progres pembebasan tanah dan waktu yang kurang dari dua bulan, eko pesimistis proyek fisik bisa dimulai akhir tahun ini. “Dengan waktu semepet ini, sepertinya pembangunan Tol Kediri-Kertosono tidak dapat dilakukan di tahun ini,” kata Eko.
Lebih jauh Eko menjelaskan, Tol Kediri-Kertosono direncanakan sepanjang 20,7 kilometer (km). Tanah yang dibutuhkan mencapai 2.210.774 meter persegi. Tersebar di 21 desa di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri. Khusus untuk wilayah Kediri, proyek tol menyasar Desa Ngablak, Maron, Banyakan, dan Sendang di Kecamatan Kemudian. Serta, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol. Adapun belasan desa lainnya terletak di tiga kecamatan, Kabupaten Kediri. Yakni di Sukomoro, Tanjunganom, dan Prambon.
Dari puluhan desa tersebut, menurut Eko pembebasan tanah di Kabupaten Kediri relatif berjalan lancar. Dari Bahkan nyaris seluruh aset milik warga sudah mendapat ganti rugi. Hanya tinggal menyisakan sebagian kecil tanah yang terdampak saja.
Berbeda dengan Kediri, di Nganjuk hampir semua tanah yang terdampak belum dibebaskan. Pembebasan terhambat penolakan warga pemilik tanah. “Penolakan warga di Nganjuk ini yang menjadi masalah. Karena sekitar 80 persen tol berada di Nganjuk,” terangnya.
Kondisi itulah yang menurut Eko membuat persentase pembebasan lahan Tol Kediri-Kertosono jalan di tempat. Hingga pertengahan November ini masih kurang dari 10 persen dari total tanah yang dibutuhkan.
Melihat progres pembebasan tanah, otomatis PT JNKK tidak berani memulai pekerjaan fisik. Sesuai ketentuan, menurut Eko pihaknya baru bisa memulai pembangunan jalan tol jika pembebasan tanah sudah mencapai 80 persen. “Kalau seperti sekarang belum bisa,” papar Eko sembari menyebut secara teknis PT JNKK sudah siap memulai pembangunan. Namun, mereka harus menunggu pembebasan tanah mayoritas selesai lebih dulu.
Meski persentase tanah yang dibebaskan masih minim, Eko berharap tahun depan pembebasan tanah bisa segera selesai. Sehingga, proyek fisik bisa segera dimulai. Setidaknya, jalan bebas hambatan yang menghubungkan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk itu bisa beroperasi setelah Bandara Internasional Dhoho juga beroperasi. “Kami akan maksimalkan pembebasan di tahun depan. Semoga tidak ada masalah lagi,” harapnya.
Sayang, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Tol Kediri-Kertosono Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kartika Sari belum bisa dikonfirmasi terkait progres pembebasan tanah tol. Saat dihubungi melalui WhatsApp, dia hanya menjawab salam koran ini tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, meski fisik Tol Kediri-Kertosono belum dimulai, pelebaran jalan di interchange tol perempatan Banyakan tetap digarap November ini. Sesuai kesepakatan, PT JNKK harus memperlebar jalan sepanjang 90 meter. Jika saat ini Jl PB Sudirman itu hanya delapan meter, di ujung utara Jl PB Sudirman itu akan diperlebar menjadi 17 meter.
Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama mengatakan, pengerjaan fisik di lahan milik 10 KK warga itu akan dilakukan secepatnya. “Nanti di sana juga akan dipasang gapura Selamat Datang di Bandara Dhoho,” papar Irwan.
Editor : Anwar Bahar Basalamah