KEDIRI, JP Radar Kediri- Warga yang terdampak pencemaran air di Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, kemarin menutup sumur milik Sulastri. Setelah terlebih dulu dikuras hingga habis airnya.
Ada beberapa alasan mengapa dilakukan pengurasan dan penyegelan sumur milik warga RT 05 RW II itu. Pertama, pencemaran yang terjadi di sumur tersebut yang paling parah. Sehingga, setelah air yang lama habis, nanti akan dilihat apakah yang baru nanti masih memunculkan bau yang serupa. Apalagi, pengurasan dilakukan seiring dengan pengosongan tangki bahan bakar minyak (BBM) milik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tempurejo.
Alasan lain, ada tudingan yang diarahkan ke warga. Menuduh sumur sengaja diberi BBM. Hal itu yang membuat warga geram dan menyegel sumur setelah melakukan pengurasan.
“Hari ini kami sudah kuras sumur milik Sulastri. Setelah kami pastikan habis, sumur tersebut juga disegel,” terang Kepala Kelurahan Tempurejo Oryza Mahendra Jaya yang ditemui di lokasi.
Proses pengurasan sumur berlangsung hampir dua jam. Dimulai sekitar pukul 08.00. Warga terlebih dulu memasukkan selang ke sumur. Kemudian air disedot menggunakan pompa. Air kurasan dimasukkan ke dalam dua tangki. Yang akan diolah terlebih dulu oleh pihak Pertamina.
Selain warga pengurasan juga disaksikan penanggung jawab SPBU Tempurejo 5464135 Agus Salim, pihak Kelurahan Tempurejo, anggota bhabinkamtibmas, dan babinsa Tempurejo. Setelah terkuras habis waga langsung menutup sumur dan menyegelnya. Penyegelan dilakukan dengan cara menutup mulut sumur dengan banner kemudian merekatnya dengan lakban.
Oryza menjelaskan, penyegelan sumur milik Sulastri memiliki alasan. Salah satunya karena warga geram dituduh merekayasa kasus pencemaran. “Kami beberapa kali mendengar kabar jika ada oknum yang sengaja memasukkan BBM ke sumur milik Sulastri,” dalih Oryza.
Penutupan sumur tersebut dilakukan berbarengan dengan pengosongan tangki BBM milik SPBU Tempurejo. Nantinya dalam jangka waktu tertentu, sumur milik Sulastri akan dibuka. Pembukaan segel nanti juga dilakukan warga dan pihak Pertamina. Sebagai pembuktian apakah pencemaran air yang terjadi di sumur itu direkayasa atau tidak.
Kapan proses pembukaan segel sumur? Oryza belum bisa memastikan. Dia hanya menyebut jika sumur tersebut akan dibuka bebarengan dengan pengosongan tangki BBM yang saat ini masih dilakukan di SPBU Tempurejo.
“Kita akan lihat langsung, apakah benar sumur tersebut tercemar apa tidak?” tegasnya.
Ketua RT 05/II Abdullah Mubarak menyebut, meskipun yang tercemar banyak hanya milik Sulastri yang disegel. Karena secara kasat mata sumur tersebut yang paling tercemar.
Abdullah juga tak bisa memastikan sampai kapan sumur tersebut disegel. Yang pasti, dia meyakinkan, tidak dalam waktu lama.
“Kami ingin pastikan apakah benar sumur milik Sulastri tercemar beneran atau tidak,” ungkapnya.
Fakta baru juga diungkapkan oleh Abdullah. Dirinya menyebut, sejak pengosongan tangki SPBU Tempurejo sejak selasa lalu (12/9), beberapa warga mengaku jika bau sumur tercemar sedikit menghilang. Namun itu hanya terjadi di satu-dua sumur milik warga. Sedangkan sisanya masih memiliki bau menyengat.
“Entah itu ada korelasinya dengan pengosongan tangki apa tidak. Saya juga tidak bisa memastikan. Namun sepertinya perlu untuk diungkapkan,” tambahnya.
Section Head Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Taufiq Kurniawan memaparkan, prosedur penyegelan dilakukan setelah Pertamina selesai menyedot sebanyak mungkin kandungan minyak yang ada dalam sumur tersebut. “Kemarin (14/9) untuk pengurasan sudah selesai dengan semua kandungan minyaknya terkumpul. Tetapi kan sumur itu akan tetap muncul air artesis. Karena memang sumur bor jadi akan tetap muncul air terus menerus,” terang Taufiq.
Sehingga, imbuh Taufiq, Pertamina bersama warga sepakat melakukan penyegelan. Di saat yang sama, Pertamina juga akan melanjutkan proses pembersihan tangki pendam tempat penyimpanan BBM.
“Tangki di SPBU sebenarnya sudah kosong sejak kemarin (Kamis, 14/9, Red). Cuma kami cleaning atau bersihkan sampai benar-benar bersih dan kering. Jadi nanti setelah ini, prosesnya dari (tangki) yang benar-benar kering tadi itu dilihat. Saat sumur dibuka, masih ada yang masuk nggak. Atau pun cemaran di situ,” imbuh Taufiq sembari menambahkan, prosedur tersebut juga merupakan bentuk permintaan dari warga terdampak. Yang proses pengujiannya akan disepakati bersama dengan warga.
Selama sumur disegel, tidak ada yang boleh membukanya. “Tidak boleh mengitak-atik sumur itu. Karena sudah disegel dan disepakati. Selama ini kami juga sudah rutin memberikan bantuan air bersih untuk ibu sulastri. Dibantu dengan bantuan air bersih yang dari pemda itu,” tandasnya.
Di sisi lain, hingga kemarin, Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar masih menunggu hasil pemeriksaan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Hingga kemarin (15/9), belum ada hasil dari penelitian tersebut.
Karena sebelumnya, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan uji geolistik. Uji tersebut dilakukan di depan SPBU Tempurejo dan gang tempat tinggal warga terdampak. Selain itu, peneliti juga melakukan uji di dua lokasi lainnya. Yakni di belakang permukiman warga yang sebelumnya jadi tempat timbunan sampah. Serta di permukiman utara SPBU Tempurejo.
Kapan hasil tes tersebut keluar? Abu belum bisa memastikan. Karena penelitian tak dapat dilakukan dalam waktu yang cepat. Namun dia berharap dapat diselesaikan secepat mungkin.
“Saya ingin warga saya kembali hidup normal. Dan tidak terancam dengan kandungan air sumur yang membahayakan,” tegasnya.
Seperti diberitakan, sedikitnya ada 14 sumur warga di Kelurahan Tempurejo RT 05/II yang berbau menyengat mirip bahan bakar minyak (BBM). Dugaan pencemaran itu pun mengarah pada dua hal. Yakni, kebocoran SPBU Pertamina 54.641.35. Dugaan kedua berasal dari lubang bekas galian batu bata di belakang kawasan terdampak yang puluhan tahun lalu ditimbun dengan sampah.
Jika awalnya hanya menimbulkan bau yang tajam, Sabtu (9/9) lalu muncul zat mirip minyak berwarna cokelat kehitaman pada sumur milik Sulastri. Saat disulut dengan api, zat itu langsung terbakar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah