KEDIRI, JP Radar Kediri - Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) angkat bicara terkait tingginya kadar total petroleum hydrocarbon (TPH) di air sumur warga.
Menurutnya, kandungan TPH di air yang melebihi ambang batas hanya bisa disebabkan oleh cemaran produk minyak bumi. Adapun sampah menurutnya tidak bisa jadi pemicu polutan yang menyebabkan tingginya kadar hidrokarbon di air.
“Enggak mungkin (dari sampah, Red). Apalagi itu bisa dibakar. Kalau sampah dia menghasilkan lindi,” kata Amien. Dosen Geologi Departemen Teknik Geofisika itu menjelaskan, penyebab polutan minyak hanya bisa berasal dari dua sumber. Yakni, kebocoran atau alami.
Melihat struktur wilayah Kota Kediri, menurutnya kecil kemungkinan ditemukan minyak bumi. “Aneh juga kalau di situ ada (minyak bumi, Red),” lanjutnya.
Terkait hasil uji yang berbeda, Amien menyoroti terkait lokasi sampling. Menurutnya, pengambilan sampel air harus disesuaikan dengan arah aliran air tanah. Sehingga, potensi arah cemaran bisa diperkirakan.
“Cara pengukuran lokasi yang disampling jadi sangat penting. Karena air tanah itu mengalir. Artinya kalau ada sumber pencemar, bisa tahu mana saja yang tercemar. Kalau di luar dari itu (aliran air tanah), hasilnya pasti jadi baik-baik saja. Tapi kalau itu sudah jelas bau, dipegang juga lengket terasa ada minyaknya, kok bilang normal, itu sebenarnya yang harus ditanyakan,” tandasnya.
Terpisah, Pertamina kemarin juga mengumumkan hasil uji oleh laboratorium independen. Sesuai hasil uji Pertamina, tidak ditemukan kandungan bahan bakar minyak (BBM) dari enam sampel yang diujikan.
Section Head Communication & Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Taufiq Kurniawan menyebut, pengujian yang dilakukan oleh PT Envilab Indonesia itu menunjukkan kadar benzena dan minyak lemak jauh di bawah baku mutu.
“Justru ditemukan coliform yang menurut pakar di laboratnya, itu indikasi adanya bakteri e-coli yang terkumpul dari sisa-sisa makanan busuk atau sampah,” terang Taufiq.
Dikonfirmasi terkait temuan air sumur warga yang berubah warna dan mudah terbakar, menurut Taufiq hasil pengujian laboratorium harus tetap jadi acuan. Alih-alih, video yang menurutnya belum terbukti kebenarannya.
“Penyebab segitiga api kan bukan hanya dari bahan bakar. Tetapi juga bisa dari adanya oksigen, gesekan, dan faktor pembawa api. Kalau dari video yang kita lihat, air dituangkan di atas kertas. Ada kertas saja kalau dibakar ya pasti keluar api,” paparnya.
Ia juga meragukan keaslian video uji coba pembakaran zat polutan di air yang sudah beredar luas. Menurutnya, jika pencemaran sudah berlangsung lama, seharusnya percobaan pembakaran dilakukan sejak awal.
“Karena kita juga nggak ngerti keaslian video itu. Ada yang dipotong atau tidak. Jadi daripada mempercayai video, menurut saya mending mempercayai hasil lab yang lebih independen dan ilmiah menjelaskan,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah