Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Muka Air Sumur Pantau Pertamina di SPBU Tempurejo Kota Kediri Lebih Dangkal, Begini Penjelasan Pakar Geologi

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 28 Agustus 2023 | 18:25 WIB

TELITI: Tim DLHKP Kota Kediri memeriksa kedalaman sumur pantau SPBU Pertamina. Tim juga memeriksa kedalaman dan muka air sumur warga.
TELITI: Tim DLHKP Kota Kediri memeriksa kedalaman sumur pantau SPBU Pertamina. Tim juga memeriksa kedalaman dan muka air sumur warga.

KEDIRI, JP Radar Kediri–Masukan pakar geologi terkait pencairan sumber cemaran dengan mengukur muka air tanah, ditindaklanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri. Kemarin sore, tim turun ke lapangan untuk mengukur muka air tanah dan kedalaman sumur warga terdampak. Termasuk mengukur sumur pantau SPBU Pertamina yang diduga menjadi sumber cemaran.

Pantauan koran ini, tim mengukur kedalaman air warga secara manual. Yakni, menggunakan kenur berwarna kuning yang diberi pemberat di bagian ujungnya. Hasil pengukuran, rata-rata muka air sumur warga di ketinggian 3-5 meter.

Seperti di rumah Semi dan Supartini. Di rumah yang airnya dilaporkan pertama kali mengeluarkan bau menyengat mirip solar atau bensin itu, muka air sumurnya empat meter. Sedangkan kedalaman sumurnya mencapai tujuh meter.

“Pengukuran meliputi ketinggian muka air dan kedalaman sumur di rumah warga. Baik yang terdampak atau yang di sekitarnya,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Penataan dan Penataan Lingkungan Hidup DLHKP Aris Mahmudin yang kemarin memimpin tim dari DLHKP.

Baca Juga: Rekanan Kebut Pemasangan Struktur Beton Stadion Baru Kediri, Ini Progresnya

Sayang, beberapa sumur warga merupakan sumur bor, tidak bisa dibuka untuk diukur kedalamannya. Tim pun mendata dengan metode wawancara dengan pemilik sumur.

Selain mengukur sumur air milik warga, tim DLHKP juga mengukur kedalaman dan muka air sumur di SPBU Pertamina Tempurejo. Di sana, diketahui air sumur yang dipakai untuk sumber air memiliki kedalaman 11,09 meter. Sedangkan muka airnya 6,25 meter.

Tim juga memeriksa dua sumur pantau yang terletak di dekat tangki minyak SPBU. Kedalamannya 3,50 meter. Saat dicek kondisi air sumurnya, di sana tidak muncul bau menyengat mirip solar seperti di sumur warga.

Terpisah, Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo mengapresiasi langkah DLHKP. Menurutnya,
untuk menelusuri sumber cemaran memang bisa dilakukan dengan mengukur muka air sumur.

Photo
Photo


Fungsinya, untuk memetakan muka air tanah di kawasan tersebut bisa dipetakan. Apalagi, jika kawasan terdampak memiliki permukaan tanah yang datar.

“Disamping itu bisa dilakukan tes kualitas air. Misal untuk mengetahui kandungan minyaknya berapa. Nah, kalau tahu arah alirannya, harusnya yang semakin jauh dengan sumbernya, makin kecil kandungannya,” terang Amien.

Dosen Geologi Departemen Teknik Geofisika ITS itu juga menyarankan DLHKP melakukan uji hidrokarbon. Di antaranya, menguji sampel tanah sebagai media persebaran cemaran.

“Kalau dia (tanah) dilewati sumber cemaran yang sama, harusnya dia pun akan tercemar yang sama. Tapi memang yang paling mudah kan air. Kalau tanah harus dibor,” tandasnya.

Baca Juga: ASN Pemkot Kediri Tukar Tabung Gas Elpiji

Pengeboran tanah untuk mengambil sampel pun menurut Amien tak sembarangan. Teknisnya harus dilakukan dengan mesin khusus. Selain untuk memastikan sampel tanah tidak terkontaminasi partikel di atasnya, juga untuk mengetahui kedalaman dari sampel yang diambil.

“Harus sampel asli. Istilahnya di core atau inti. Itu pasti nggak tercampur dengan yang lain. Dan kedalamannya harus sesuai dengan dugaan pencemaran. Yang wajib, di bawah muka air sumur,” tandasnya.

Dikonfirmasi terkait hasil pengukuran kedalaman sumur pantau SPBU Pertamina yang lebih dangkal, Amien menyebut kedalaman sumur pantau SPBU dan sumur warga harus sama. Jika faktanya tidak sama, tidak bisa jadi parameter penilaian. “Ya nggak nyambung karena lokasinya nggak sama. Pasti hasilnya nggak masalah. Kedalaman yang diukur harus sama, itu baru fair,” tegasnya.

Amien menuturkan, penelusuran sumber cemaran harus tetap dilakukan. Sebab, meski air tanah cenderung mengalir, air akan tetap tercemar jika sumbernya belum teratasi. “Membersihkannya sebenarnya mudah. Bisa disedot sampai airnya tidak berbau. Tapi syaratnya sumber pencemarnya harus distop dulu,” papar Amien.

Baca Juga: Penertiban Tugu Perguruan Silat Dilakukan secara Massif pada Akhir September

Seperti diberitakan, sedikitnya ada 14 sumur warga di Kelurahan Tempurejo, Pesantren yang sumurnya diduga tercemar minyak. Saat dicium, bau yang keluar mirip dengan solar. Sebagian lainnya menyebut mirip dengan bensin. Cemaran muncul dalam waktu yang beragam. Yang paling lama, sumurnya tercemar sejak sebulan lalu.

Menindaklanjuti cemaran tersebut, DHLKP melakukan pengujian air dan tanah. Hasil tes laboratorium diperkirakan akan keluar hari ini. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#air sumur #pencemaran #pertamina #spbu