Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar Datangi Lokasi Pencemaran Minyak, Ini Pernyataannya

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 25 Agustus 2023 | 17:13 WIB

BERBAU TAJAM: Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengecek air di salah satu rumah warga yang terdampak. Dia memastikan air tercemar bau minyak yang tajam dan licin. Foto bawah, tim dinas lingkungan hidup ke
BERBAU TAJAM: Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengecek air di salah satu rumah warga yang terdampak. Dia memastikan air tercemar bau minyak yang tajam dan licin. Foto bawah, tim dinas lingkungan hidup ke

KEDIRI, JP Radar Kediri–Tercemarnya air sumur warga Kota Kediri oleh minyak yang diduga berasal dari SPBU Pertamina, jadi perhatian Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Pemimpin dua periode itu mengecek kondisi air yang tercemar. Selain bau minyak tercium tajam dan licin, Abu juga merasakan gatal di tangan usai mencelupkannya ke air.

Abu tiba di lokasi pukul 09.40. Wali kota dua periode itu mengajak Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) M. Anang Kurniawan dan Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumedi. Setibanya di sana, Abu langsung mengecek sejumlah rumah warga yang air sumurnya tercemar minyak.

“Airnya berbau, tapi berbeda-beda. Ada yang baunya tidak menyengat, tapi airnya agak keset. Kalau seperti di tempat Bu Semi itu airnya licin dan berbau menyengat. Dan mulai terasa gatal (setelah mencelupkan tangan ke air, Red),” ujar Abu usai mengecek air di rumah Semi, 52.

Di halaman rumah Semi, ia mengecek air dengan memutar keran. Selanjutnya, dia menampung air menggunakan gayung. Sejurus kemudian dia mencium baunya. Kemudian, membasuh tangannya menggunakan air yang tercemar minyak tersebut. “Ini yang paling terasa (bau minyak menyengat, Red) di sini (rumah Semi, Red),” lanjutnya.

Baca Juga: Permintaan Golongan Darah Jenis O di Kabupaten Kediri Tinggi

Di lingkungan tersebut, Abu juga sempat berbincang-bincang dengan warga lain. Sulastri, salah satu lansia mengadukan kondisi air di rumahnya yang sempat berubah warna saat didiamkan di dalam wadah.

Kepada Abu, warga juga membeberkan adanya lubang besar bekas galian batu bata. Galian tersebut kemudian ditimbun dengan sampah. Di atas timbunan itu kini berdiri rumah dan lapangan.

Keberadaan lubang besar berisi sampah itu sempat memunculkan dugaan cemaran minyak bisa juga berasal dari tumpukan sampah tersebut. Namun, hal itu langsung terbantahkan dengan pernyataan Sulastri. “Malah yang di joglangan (rumah di bekas galian batu bata yang ditimbun sampah, Red) tidak bau (minyak, Red),” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Abu menjelaskan, ada dua kemungkinan penyebab air berbau minyak. Selain dugaan kebocoran tangki dari SPBU Pertamina yang tepat berada di sebelah utara lingkungan warga, muncul dugaan lain dari timbunan sampah bekas galian batu bata. “Belum tahu ini yang mana (penyebab cemaran minyak, Red). Apakah dari sampah yang ditimbun atau dari pom bensin,” tandasnya.

Baca Juga: Ratusan Pedagang Pasar Ngadiluwih Bisa Pindah ke Penampungan Sementara, Ini Jadwalnya

Merespons cemaran minyak di sejumlah rumah warga tersebut, Abu langsung mengambil sikap tegas. Dia melarang warga menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk mandi atau mencuci baju sekalipun tidak boleh menggunakan air tersebut.

Sebagai gantinya, bapak empat anak itu mendatangkan tandon-tandon air yang akan diisi ulang tiap pagi dan sore. “Kami tidak merekomendarikan (air tercemar minyak, Red) untuk digunakan. Sementara kami memberikan solusi air yang ada di tandon,” tegasnya.

Seperti diberitakan, keluhan air yang tercemar minyak muncul sejak Minggu (13/8) lalu. Sedikitnya ada 14 rumah warga di RT 05, Kelurahan Tempurejo, Pesantren yang mengeluhkan air sumurnya tercium bau minyak. Mirip dengan solar.

Saat koran ini berusaha mengambil sampel air di sekitar lokasi, ternyata tidak hanya air sumur di 14 rumah warga tersebut yang tercium bau minyak. Bau yang sama juga muncul di air sumur warga yang letaknya jauh lebih ke barat.

Menanggapi keluhan warga tersebut, pihak SPBU Pertamina 54.641.35 yang jaraknya kurang dari 100 meter langsung melakukan pengecekan. Hasil pengecekan di sumur pantau, oil catcher, dan tangki minyak, mereka mengklaim tidak menemukan ceceran minyak.

Photo
Photo

Pemkot Kediri Ambil Sampel Tambahan di Lokasi Pencemaran Minyak
Penyebab pasti cemaran minyak pada sejumlah rumah warga di Kelurahan Tempurejo, Pesantren terus didalami oleh Pemkot Kediri. Kemarin, Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri mengambil sampel tanah untuk diuji lebih lanjut. Demikian pula dinas kesehatan yang mengambil tiga sampel air tambahan untuk diuji di laboratorium.

Plt Kepala DLHKP Kota Kediri M. Anang Kurniawan mengungkapkan, pengambilan sampel tanah di lingkungan warga terdampak cemaran minyak kemarin dilakukan untuk mendukung pengujian laboratorium atas sampel air yang dikirim sejak Senin (14/8) lalu.

“Kalau bisa hari ini (kemarin) harus segera kita antar (sampel tanah) ke lab-nya. Namun kami masih koordinasi dengan dinas pertanian untuk prosesnya,” ujar Anang.

Agar pengujiannya bisa maksimal, Anang menyebut pihaknya mengambil beberapa sampel yang bisa mewakili secara keseluruhan. Tak hanya di lokasi terdampak, namun juga di lokasi bekas timbunan sampah, serta spot lain sebagai pembanding. “Mungkin bisa sampai 10 tempat,” lanjutnya.

Baca Juga: Satpol PP Kota Kediri Stop Operasi Kafe Bacchus, Ini Gara-Garanya

Sembari menunggu hasil pengujian laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti air tercemar bau minyak, DLHKP juga telah memasang tandon-tandon air. Hingga kemarin ada 10 tandon dengan kapasitas 400 liter dan 550 liter di permukiman terdampak. “Nanti setiap pagi dan sore akan kita isi airnya untuk kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.

Untuk diketahui, DLHKP juga mengebor air di satu titik area terdampak. Pengeboran yang diklaim lebih dalam itu tujuannya untuk membandingkan dengan sumur-sumur yang berbau mirip solar. Hasilnya, air dari sumur yang baru dibor itu bau minyaknya tidak terlalu tajam. Tidak seperti belasan sumur lainnya.

Di tempat terpisah, tim dinas kesehatan kembali mengambil
tiga sampel air tambahan. Sampel tersebut juga akan diuji lagi untuk melihat zat terlarut di dalamnya.

Sementara itu, Lurah Tempurejo Oryza Mahendrajaya yang kemarin turun ke lokasi membenarkan jika di belakang rumah warga terdampak pencemaran minyak itu terdapat lubang besar bekas timbunan sampah.

Baca Juga: Pemkab Kediri Gerojok Rp 140 Miliar untuk Atasi Kasus Stunting, Ini Peruntukkannya

“Kira-kira sudah 20 sampai 30 tahun yang lalu memang dibuat batu bata. Dikeduk sampai dalam kemudian diuruk dengan sampah-sampah. Setelah keuruk, sekarang jadi hunian. Cuma yang sampah itu persis di belakanganya ini (rumah terdampak),” lanjut Oryza.

Meski demikian, menurut Oryza air sumur yang berbau menyengat itu baru kali ini dirasakan warga. Sebelumnya, belum pernah ada kejadian seperti itu di sana.

“Ini baru muncul 2 sampai 3 minggu yang lalu. Mereka sebenarnya sudah bau tapi nggak ngeh (menyadari). Saat disamakan dengan rumah-rumah yang lain, baru tahu,” tuturnya.

Terkait kemungkinan cemaran air berasal dari timbunan sampah, menurut Oryza hal tersebut disangsikan oleh warga. Sebab, lokasi lingkungan terdampak cenderung lebih jauh dari titik bekas sampah. Sumur air yang berada tepat di atas timbunan juga tidak berbau.

“Kalau misal memang penyebabnya sampah, rumah yang dibangun pas di atasnya itu juga harusnya bau. Tapi kan di sana enggak,” sahut Abdullah Mubarok, ketua RT 05 Kelurahan Tempurejo, Pesantren.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#wali kota kediri #tercemar #air #minyak