KEDIRI, JP Radar Kediri–Prevalensi kasus stunting atau kekerdilan di Kota kediri turun tipis. Jika pada 2022 lalu sebesar 7,2 persen, tahun ini menjadi 6,96 atau turun 0,24 persen.
Hal tersebut diungkapkan dalam penilaian kinerja tim percepatan penurunan stunting (TPPS) dengan Pemprov Jatim. Pertemuan yang dilangsungkan secara daring itu turut menghadirkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Kediri.
Sekretaris Daerah Kota Kediri Bagus Alit mengatakan, pertemuan kemarin untuk mengukur capaian pengentasan stunting di daerah. Pemprov Jatim mengevaluasi pemerintah kota dengan mengajukan sejumlah pertanyaan untuk pendalaman. Termasuk terkait perkembangan kasus stunting di Kota Kediri.
“Setelah ditangani ini sudah menurun. Dari sebelumnya 941 (kasus balita stunting tahun 2022) menjadi 778. Jadi trennya turun. Termasuk prevalensinya juga turun dari 7,2 menjadi 6,9,” ujar Bagus Alit.
Baca Juga: Ribuan Anak di Kota Kediri Belum Punya KIA, Ini yang Dilakukan Pemkot Kediri
Selain menyampaikan data kasus, pemkot juga memaparkan aksi dan tindakan yang diupayakan untuk menekan angka kekerdilan pada balita. Di antaranya, delapan aksi konvergensi mulai dari analisa situasi, mengadakan rembuk stunting, hingga berkolaborasi dengan stakeholder.
Selain itu, menurut Bagus, penanganan stunting tidak bisa hanya difokuskan pada penanggulangan. Melainkan, pendampingan balita terindikasi stunting harus dilakukan jauh sebelum itu. Atau dari hulunya.
“Tidak hanya di hilir, tapi di hulu juga. Jadi mulai remaja itu dipantau. Ada indikasi anemia atau tidak. Kalau iya, diberi tablet tambah darah,” terangnya sembari menyebut calon pengantin juga diintervensi dengan penyuluhan, screening, dan program lainnya.
Pencegahan stunting menurut Bagus Alit juga bisa dilakukan sejak masa kehamilan. Caranya dengan memantau perkembangan kesehatannya agar janin tidak berpotensi lahir stunting.
Baca Juga: Tim BBPJN Turun ke Jongbiru untuk Persiapan Pembangunan Jembatan, Ini yang Dilakukan
Data yang dihimpun koran ini menunjukkan, selama paruh awal 2023, kasus stunting di Kota Kediri terhitung masih tinggi. Yakni, sebanyak 778 balita. Paling banyak berada di Kecamatan Pesantren dengan 263 kasus. Kemudian Kecamatan Kota sebanyak 258 kasus. Serta 257 kasus di Kecamatan Mojoroto.
Bagus Alit menambahkan, stunting tidak hanya terjadi pada keluarga miskin. Lebih kompleks, stunting juga bisa ditemukan di keluarga dengan perekonomian baik, namun pola asuh yang salah.
“Makanya kalau untuk itu ada SOTH, itu semacam sekolah orang tua hebat. Intinya untuk mendidik agar pola asuhnya benar supaya balita atau baduta (bayi dua tahun) atau lima tahun ini diberikan asupan makanan yang semestinya,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah