Bandara Internasional Dhoho Kediri digadang memiliki fasilitas segudang. Salah satunya jika dilihat dari panjang runway atau landasan pacu yang dimiliki. Runway bandara ini diklaim melebihi milik Bandara Juanda Surabaya.
Dengan fakta tersebut, Bandara Kediri tentu bukan bandara yang main-main. Dengan landasan sekitar 3,3 kilometer (km), pesawat airbus dapat landing di bandara ini.
“Pertanyaannya ada penumpangnya apa tidak?” tanya Pakar Korporasi Iman Supriyono.
Menurut Iman, akan miris jika bandara dengan fasilitas semacam ini tidak diminati orang. Alias penumpangnya hanya sedikit. Untuk menjawab itu semua, dia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang diperlakukan. Sehingga keraguan tersebut dapat ditepis.
“Penumpang ini kan dikreasikan dari pertumbuhan ekonominya,” tutur pria berkumis tipis tersebut.
Iman mengambil contoh dari sisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan sebuah nilai tambah bruto dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah domestik suatu negara. PDRB timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, PDRB di Kota Kediri mencapai Rp 153 Triliun (T). Sedangkan di Kabupaten Kediri sebesar Rp 47 T. Jika dijumlahkan, nilainya menjadi Rp 200 T. Sementara itu, kontribusi PT Gudang Garam Tbk saja mencapai RP 125 T.
Berkaca dari hal itu, Iman semakin meyakini bahwa perkembangan Bandara Kediri akan sangat bergantung dengan korporasi. “Kalai kita ingin Bandara Kediri lebih bagus, satu-satunya cara adalah dengan menumbuhkan korporasi di Kediri Raya,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah