Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Puncak Hari Jadi Kota Kediri ke-1.144 dengan Manusuk Sima, Ini Pesan Wali Kota Abu

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 28 Juli 2023 | 17:11 WIB

 

KE ALAM BEBAS: Wali Kota Abu ( 5 dari kiri) melepas burung perkutut sebagai wujud upaya pelestarian alam di peringatan Hari Jadi Kota Kediri di balai kota kemarin.
KE ALAM BEBAS: Wali Kota Abu ( 5 dari kiri) melepas burung perkutut sebagai wujud upaya pelestarian alam di peringatan Hari Jadi Kota Kediri di balai kota kemarin.

KEDIRI, JP Radar Kediri – Ada yang istimewa saat perayaan Hari Jadi ke-1.144 Kota Kediri kemarin. Yaitu ketika Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengumumkan bakal mengeluarkan aturan pembatasan pemakaian plastik sekali pakai.

Deklarasi pembatasan plastik sekali pakai itu terjadi ketika berlangsung prosesi Manusuk Sima di Balai Kota Kediri kemarin (27/7) pagi. Langsung diucapkan oleh orang nomor satu di Kota Kediri tersebut.

“Saya mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Wali Kota Abu di depan jajaran Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), dan warga kota.

Menurut Abu, saat ini Kota Kediri telah berkembang menjadi kota pendidikan, perdagangan, dan jasa unggulan di Jawa Timur. Dinamika itu turut mengundang banyak pendatang baru. Yang juga memunculkan beberapa masalah baru.

“Salah satu dampaknya adalah timbulan sampah, khususnya sampah plastik,” ujar Abu saat memberikan sambutan.

Nah, pemkot pun berambisi mewujudkan kembali Kota Kediri yang subur, seperti yang tergambar dalam Prasasti Kwak 1.144 tahun lalu. Salah satu caranya adalah segera mengesahkan regulasi pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Termasuk di antaranya larangan penggunaan styrofoam, sedotan plastik, dan kantong plastik.

Secara khusus regulasi itu akan menyasar instansi pemerintah, BUMN, BUMD, BLUD, lembaga pendidikan, sektor swasta, lembaga sosial, lembaga keagamaan, serta pelaku usaha. “Mudah-mudahan kita bisa menjaga ini agar sustainable, bisa zero waste. Karena kita punya tanggung jawab lingkungan,” tambah Abu.

Selain berusaha mewujudkan Kota Kediri zero waste, prosesi Manusuk Sima kemarin juga ditandai pelepasan ribuan burung perkutut ke alam liar. Sebagai wujud pelestarian habitat burung endemik Pulau Jawa tersebut. Total ada 1.144 ekor perkutut-sesuai angka hari jadi-yang dilepas bersamaan di puncak acara.

Untuk diketahui, Pemerintah Kota Kediri menggelar prosesi Manusuk Sima di halaman Balai Kota Kediri kemarin. Tak seperti tahun sebelumnya yang diadakan di Lingkungan Kuwak atau Tirtayasa, tahun ini Manusuk Sima digelar di halaman kantor pemerintahan.

“Upacara Manusuk Sima ini merupakan tradisi untuk mengenang peristiwa 1.144 tahun yang lalu. Di mana Dusun Kwak ditetapkan sebagai tanah sima atau daerah partiga atau daerah yang bebas pajak,” papar Abu.

Wanua atau Desa Kwak itu digambarkan sebagai wilayah yang luas dan subur. Tanahnya yang sebagian besar merupakan lahan pertanian dikenal subur karena dialiri patirtan atau sumber air yang bermuara di Wanua Kwak. Kini, sumber air itu dikenal sebagai Tirtayasa.

Adapun tahun ini merupakan ke-22 kalinya hari jadi Kota Kediri dirayakan berdasarkan pertanggalan dari Prasasti Kwak. Penetapan hari jadi pada 2001 lalu itu juga menandai munculnya otonomi daerah pada waktu itu.

Dalam seremonial kemarin, turut ditampilkan Tari Bedaya Manusuk Sima oleh enam penari. Di ujung prosesi, Wali Kota Abdullah Abu Bakar secara simbolis menerima duplikat Prasasti Kwak untuk selanjutnya disemayamkan kembali di Balai Kota Kediri.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#walikota kediri #hari jadi #hari jadi kota kediri 1144 #Hari Jadi Kota Kediri