Tempat-tempat itu tak semuanya berupa pasar hewan. Namun, juga ada peternakan yang biasa dijadikan lokasi jual beli. Hingga kemarin sudah 62 lokasi yang didatangi.
“Hasilnya belum kami temukan hewan kurban yang terkena penyakit. Baik PMK (penyakit mulut dan kuku, Red) atau LSD (lumpy skin disease, Red),” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri Yhuni Ismhawati.
Pemeriksaan berupa pengecekan tanda fisik dan bagian luar hewan. Seperti gerak-gerik, kondisi mulut, kotoran yang keluar, dan lainnya.
“Dilakukan antemortem, dilihat tanda fisiknya dilihat, dari situ bisa tahu, hewan sedang sakit atau tidak,” jelasnya.
Salah satu titik yang didatangi tim dari DKPP Kabupaten Kediri kemarin adalah peternakan di Dadapan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem. Pemeriksaan juga diikuti tim Pembangunan Ekonomi Bakorwil Madiun.
Cicilia Satyarini, salah seorang anggota tim Pembangunan Ekonomi Bakorwil Madiun, menyebut Kediri menjadi daerah yang penanganan kasus penyakit hewan cepat dan sesuai. Dari 186 kasus PMK yang tercatat, saat ini tinggal enam ekor sapi yang masih terjangkit. Sedangkan untuk LSD, dari 103 kasus, masih ada 40 ekor sapi yang sakit.
Sementara itu dari Kota Kediri, sejumlah lapak penjual kambing kurban mulai bermunculan di beberapa titik. Salah satunya di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren. Belasan ternak kambing dijajakan di pinggir jalan. Spanduk bertuliskan ‘Ayo berqurban’ terpajang di lapak yang hanya beratapkan terpal itu.
“Sudah dua hari di sini. Buka terus,” ujar Naim, pedagang kambing dadakan di sana.
Selama berjualan, ia mengaku menyewa lahan kosong di tepi jalan. Kurang dari sepuluh hari jelang Hari Raya Idul Adha, harga ternak sudah mulai naik. “Nanti bisa lebih mahal lagi kalau makin dekat hari-H,” ujarnya.
Berbeda dengan penjual kambing di pasar yang datang dan pergi, lapaknya terus buka hingga Lebaran Haji nanti. Bahkan, pembeli bisa menitipkan kambing yang sudah dibelinya untuk sementara waktu. Penjual yang akan mengantar pada waktu hari penyembelihan kurban.
“Tapi nanti ada tambahan biaya perawatan selama di sini,” pungkas Naim.
Menanggapi fenomena tahunan jelang Idul Adha ini, pengawasan pemkot pun digencarkan. Sebab, jual-beli ternak di tempat yang tidak resmi rawan jadi sarana persebaran penyakit.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan mengatakan, saat ini sedikitnya ada 15 titik jual-beli ternak di luar pasar hewan resmi. Angka itu masih bisa bertambah dengan penjual-penjual baru yang muncul mendekati hari-H.
“Orang jualan kambing di pinggir jalan sebenarnya secara teknis tidak boleh. Karena bisa mengganggu lalu lintas dan bisa menularkan penyakit karena mengambilnya dari mana kita nggak tahu,” kata Ridwan.
Meski berjualan di luar kawasan resmi, namun Ridwan mengatakan tak bisa semata-mata melarang. Sebab aspek keamanan dan kenyamanan masyarakat yang hendak beribadah kurban juga harus dipertimbangkan.
“Akhir-akhir ini sudah mulai bermunculan. Akan kami bina juga,” tegas Ridwan.
Terkait pembinaan, pemkot juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap ternak yang diperjualbelikan di pinggir-pinggir jalan. Terkait itu, pria asal Pare ini mengatakan pihaknya akan dibantu oleh tim dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PHDI).
“Untuk pemeriksaan kita dibantu dengan PDHI cabang kediri,” paparnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah