“Sesuai dengan surat edaran kementerian kesehatan, kami juga melarang peredaran sirup digunakan di puskesmas atau rumah sakit. Semua jenis sirup, tidak ada merk khusus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Achmad Khotib.
Sebagai alternatifnya, Khotib meminta orang tua membuat sirup sendiri. Caranya, dengan mencampur puyer menggunakan gula. Bisa juga menggunakan madu agar puyer yang biasanya pahit itu bisa menjadi manis.
Apakah sudah ditemukan kasus gagal ginjal akut di Bumi Panjalu? Khotib menyebut hingga kemarin belum ada temuan kasus tersebut pada balita. Meski demikian, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan.
Khusus kepada para orang tua, Khotib meminta mereka untuk tidak perlu merasa khawatir atau panik. Melainkan, tetap menerapkan pola hidup sehat agar imunitas tubuh membaik.
Khotib menegaskan, faktor cuaca jadi salah satu penyebab melemahnya kondisi fisik anak dan membuat gampang sakit. Terkait penyakit ginjal menurutnya selama ini biasa disebabkan karena infeksi dan dehidrasi. Tetapi, untuk kasus gagal ginjal akut pada anak ini tidak jelas penyebabnya.
Fungsi ginjal menurutnya bisa menurun dengan cepat. Ditandai dengan penurunan volume buang air kecil hingga tidak buang air kecil sama sekali. Gejala yang kerap muncul adalah infeksi saluran cerna yang berdampak pada mual dan muntah.
Selanjutnya, warna urine menjadi cokelat hingga penurunan jumlah, sampai tidak buang air kecil. Bila itu terjadi pada anak usia 0-18 tahun, Khotib meminta agar anak segera dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, Dinkes Kota Kediri juga melakukan antisipasi kasus gagal ginjal akut pada anak. Kepala Dinkes Kota Kediri dr Fauzan Adima mengungkapkan, di Kota Kediri juga belum ditemukan kasus gagal ginjal akut. Tetapi, mereka langsung mengawasi peredaran obat berbentuk sirup yang dijual bebas di apotek.
“Kami juga meningkatkan kewaspadaan dini kepada fasilitas kesehatan. Terutama saat menemukan atau merawat pasien-pasien yang mempunyai gejala klinis mirip gagal ginjal akut misterius,” paparnya sembari menyebut dinkes juga melakukan edukasi pencegahan penyakit penyakit gagal ginjal misterius tersebut.
Senada dengan Khotib, Fauzan meminta masyarakat menerapkan gaya hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat bisa terhindar dari berbagai macam penyakit.
Terpisah, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kediri Singgih Prabowo Adi saat dikonfirmasi menjelaskan sebenarnya produk obat yang beredar itu sudah melalui uji klinis untuk memastikan produknya aman. Namun, sesuai peraturan dan persyaratan registrasi produk obat, BPOM telah menetapkan persyaratan bahwa semua produk obat sirup untuk anak maupun dewasa, tidak boleh menggunakan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG).
“Tapi EG dan DEG ini dapat ditemukan sebagai cemaran pada gliserin atau propilen glikol yang digunakan sebagai zat pelarut tambahan, cemaran ini tidak boleh ada di produk,” tegasnya.
BPOM pusat, jelas Singgih, akan melakukan penelusuran berbasis resiko, sampling, dan pengujian sampel secara bertahap. Terutama terhadap produk pasaran yang berpotensi mengandung cemaran EG dan DEG. “Intinya semua produk yang beredar sebenarnya sudah aman, tapi atas kejadian temuan gagal ginjal anak yang dilaporkan nasional itu karena obatnya mengandung cemaran itu tadi,” tandasnya sembari menyebut BPOM belum melakukan sampling di wilayah Kediri.
Pria yang sebelumnya dinas di BPOM Belitung itu mengimbau agar masyarakat tak terlalu panik dengan informasi gagal ginjal akut pada anak. Yang perlu dilakukan adalah menggunakan obat secara sesuai, dan tidak melebihi aturan pakai. Selain itu, masyarakat juga perlu membaca dengan seksama peringatan dalam kemasan.
Terpisah, dokter spesialis anak RSUD Gambiran dr Renyta Ika Damayanti SpA menuturkan, selama ini pihaknya belum menangani kasus gagal ginjal pada anak. “Gangguan ginjal akut progesif atipikal ini biasanya terjadi pada orang yang sebelumnya tidak mengalami gejala dan gangguan ginjal,” imbuhnya meminta masyarakat mewaspadai penggonaan obat. Mereka juga diminta memantau produksi kencing anak. Editor : Anwar Bahar Basalamah